Publikasi Nasional 2010

1 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Membangun Adaptasi Masyarakat Perkotaan (Ibu-Ibu PKK) Di Era Pemanasan Global Dengan Home Gardening Sayur Organik

Ahmad Faruk, Endang Arisoesilaningsih, Gustini Ekowati

Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, e-mail: earisoe@gmail.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah menggali persepsi ibu rumah tangga tentang home gardening, merancang model home gardening pada lahan terbatas, menentukan produktifitas hasil dan manfaat ekologi dari home gardening. Pemilihan jenis sayuran ditentukan berdasarkan hasil penyebaran kuisioner dan kajian pustaka, jenis terpilih  dimanfaatkan dalam model kebun sayuran yang ditanam pada polybag. Polybag yang digunakan memiliki tiga ukuran yang berbeda, yaitu kecil (10 cm), sedang (20 cm) dan besar (30 cm). Evaluasi dampak ekologi home gardening diketahui dengan membandingkan suhu, kelembaban relatif udara dan penyimpanan karbon di halaman dengan home gardening dan lokasi di sebelahnya (kontrol). Apresiasi masyarakat terhadap rancangan home gardening dilakukan dengan penyebaran kuisioner kepada 25 responden ibu-ibu PKK kemudian data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu-ibu PKK RT 03 RW 04 Kelurahan Mergosono tidak memiliki lahan yang luas, akan tetapi 88% responden menyatakan ingin mempunyai taman dan 80% responden menginginkan menanam sayuran organik. Sayuran yang dipilih dalam pembuatan home gardening adalah sayuran daun yaitu bayam, kangkung, sawi daging, bawang daun serta selada. Estetika model home gardening sayuran organik pada 21 HST dinilai kurang menarik. Sedangkan pada penilaian evaluasi 28 HST adalah cukup menarik dengan nilai keharmonisan kombinasi tanaman (3,7), keharmonisan warna desain (3,7) dan perbandingan tanaman dengan luas lahan (3,7) pada skala penilaian 1 – 5. Tidak terjadi perbedaan iklim mikro pada pengukuran 1,5 m dari lantai antara lokasi home gardening dan kontrol. Selanjutnya pengukuran suhu dan kelembaban relatif pada ketinggian 0,5 m dari lantai terjadi perbedaan. Perhitungan penyimpanan karbon pada home gardening yang dibuat adalah 1474,47 g.m-2 per bulan. Keuntungan bersih home gardening tiap m2 perlahan ibu PKK sebesar Rp. 86.229,54 per m2 per tahun.

Kata Kunci : home gardening, pemanasan global, sayur organik

PDF Fulltext

2

Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

RESPON PERTUMBUHAN Microcystis HASIL ISOLASI DARI WADUK SUTAMI PADA BERBAGAI KOMBINASI NITRAT DAN FOSFAT DI MEDIA SELEKTIF B-12

Catur Retnaningdyah1, Suharjono2, Agoes Soegianto3, Bambang Irawan4

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, catur@ub.ac.id
2 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, calistus@ub.ac.id
3 dan 4 Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

Abstrak

Mikroalga Cyanobacteria dari genus Microcystis berpotensi menimbulkan blooming di waduk Sutami pada waktu tertentu. Pada kondisi blooming, Microcystis sp. dapat menghasilkan racun microcystin yang bersifat toksik terhadap organisme yang lain. Penelitian ini bertujuan  untuk membuat model pertumbuhan Microcystis hasil isolasi dari waduk Sutami pada berbagai variasi kombinasi rasio nitrat dan fosfat di media selektif B12. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan eksperimen murni menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan faktor berupa Nitrat (0,  8, 16, 32, dan 64 mg/L) dan fosfat (0; 0,2; 0,4; 0,8; dan 1,6 mg/L) pada media B12, sehingga variasi rasio Nitrat terhadap fosfat yang diperoleh dari perlakuan ini adalah: 0, 5, 10, 20, 40, 80, 160 dan 320. Pengulangan penelitian dilakukan sebanyak tiga kali pada waktu yang sama.  Kelimpahan populasi Microcystis diamati tiap hari sampai fase stasioner (+30 hari) sehingga akan didapatkan laju pertumbuhan (β) dan kelimpahan maksimum Microcystis yang bisa didukung oleh tiap media perlakuan (γ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pemberian nitrat dan fosfat dapat mempengaruhi secara nyata terhadap kelimpahan maksimum (γ) Microcystis, sedangkan  laju pertumbuhan hanya dipengaruhi oleh perbedaan kadar nitrat (N) di media. Kelimpahan maksimum yang tinggi dari Microcystis  di media B12 dapat terjadi pada media B12 dengan rasio   Nitrat terhadap fosfat  yang  rendah (10 dan 20) asalkan diberi kandungan  nitrat  yang  rendah (maksimum 8 mg/L) atau pada rasio Nitrat terhadap fosfat  yang tinggi (40,80, 160) dengan pemberian nitrat yang lebih tinggi (minimal 16 dan 32 mg/L)

Kata Kunci: Microcystis,  media B12, nitrat dan fosfat, Waduk Sutami

PDF Fulltext

3 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Pengaruh Penambahan “Kompos Diperkaya” pada Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tunas Tanaman Apel (Malus sylvestris Mill.)

Dian Siswanto1

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, diansiswanto@ub.ac.id

Abstrak

Apel (Malus sylvestris Mill.) merupakan salah satu aset penting bagi wilayah Malang karena selain merupakan ikon pariwisata daerah juga merupakan tanaman ternaturalisasi yang unik. Apel secara umum tumbuh dengan baik pada daerah iklim temperate, tetapi di daerah Malang yang beriklim tropis ternyata apel juga dapat tumbuh dan berproduksi. Namun, saat ini banyak petani apel yang beralih ke tanaman sayur karena meningkatnya volume buah apel impor menurunkan harga jual apel tropis. Hal ini berpotensi menghilangkan ikon pariwisata daerah sehingga diperlukan upaya konservasi. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menekan biaya produksi apel dengan memanfaatkan pupuk kompos daripada pupuk anorganik. Penggunaan kompos, dalam hal ini adalah “kompos diperkaya” (merupakan hasil dekomposisi campuran kotoran sapi dan tumbuhan pakan sapi oleh bakteri selulolitik, amilolitik dan proteolitik) juga dapat lebih menyehatkan tanaman apel sehingga pertumbuhan vegetatif menjadi lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan tunas tanaman apel terhadap penambahan kompos diperkaya sebagai media tanam. Penambahan kompos diperkaya pada media tanam bibit apel menunjukkan adanya respon positif terhadap pertumbuhan tunas tanaman apel. Perbedaan pertumbuhan tunas pada media tanah dan media campuran dengan diameter tanaman 7 sampai dengan 12 cm berkisar dari 0,275 sampai dengan 9,81 mm. Perbedaan diameter batang bawah apel belum mempengaruhi kecepatan pertumbuhan tunas pertama dan kedua pada masing-masing tanaman. Secara umum, perbedaan rata-rata pertumbuhan tunas pada media tanah serta media campuran tanah dengan kompos adalah sebesar 3,18 mm. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa tunas yang tumbuh pada tanaman di media berkompos memiliki ukuran lebih panjang dibandingkan pada media tanpa kompos.

Kata kunci: Apel (Malus sylvestris Mill.), kompos diperkaya, pertumbuhan tunas

PDF Fulltext

4 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Respon Pertumbuhan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.),

Jagung (Zea mays L.), dan  Kacang Tolo (Vigna sinensis L.) terhadap Pencemar Timbal (Pb)

Dian Siswanto1

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, diansiswanto@ub.ac.id

Abstrak

Keracunan terhadap logam berat menimbulkan penurunan pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, baik dari golongan mikroorganisme maupun tumbuhan dan secara serius membahayakan kesehatan hewan dan manusia. Pb merupakan salah satu logam berat yang digolongkan pada zat pencemar beracun tingkat menengah. Pengaruh Pb terhadap tanaman bervariasi tergantung sensitivitas spesies tanaman tersebut. Indikator yang paling peka adalah gangguan fotosintesis dan alokasi biomassa tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman kayu apu, jagung dan kacang tolo terhadap pencemar Pb yang berasal dari senyawa kimia timbal nitrat (Pb(NO3)2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi tanaman kayu apu dipengaruhi oleh media tanam. Pada media tanam yang hanya berisi akuades, tanaman kayu apu tidak menghasilkan penambahan biomassa untuk perlakuan 150 ppm Pb. Berbeda halnya dengan kayu apu pada media tanam nutrisi mineral yang menghasilkan penambahan biomassa sebesar 0,08 g untuk perlakuan 150 ppm Pb. Tanaman jagung dan kacang tolo menunjukkan resistensi yang tinggi terhadap Pb. Berdasarkan pengukuran tinggi tanaman, jagung tidak terpengaruh oleh konsentrasi Pb sebesar 150 ppm. Kacang tolo masih menunjukkan pertambahan panjang daun pada konsentrasi Pb sebesar 150 ppm, tetapi sebaliknya pada konsentrasi 1000 ppm pertambahan panjang daun tidak terjadi dan tampak gejala keracunan.

Kata kunci: respon pertumbuhan, Pb, kayu apu, jagung, kacang tolo

PDF Fulltext

5 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

KULTUR KALUS SEBAGAI PENGHASIL BETALAIN SECARA IN VITRO

Dwi Puji Rahayu1, Retno Mastuti1, Anna Roosdiana2

1Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas, Brawijaya, Malang, Indonesia
2
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas, Brawijaya, Malang, Indonesia

Abstrak

Kultur jaringan merupakan sumber alternatif sebagai penghasil substansi bioaktif tanaman termasuk pigmen. Produksi pewarna makanan dengan menggunakan bioteknologi menggunakan kultur tanaman secara in vitro memiliki beberapa kelebihan dibandingan dengan kultivasi secara komersial pada tanaman utuh. Beberapa metode kultur jaringan yang digunakan untuk menghasilkan metabolit sekunder antara lain kultur rambut akar (hairy root), suspensi sel, dan kalus. Materi esensial pada sebagian besar kultur jaringan berupa kalus. Kalus merupakan derivat asli yang berasal dari tanaman utuh, terdiri atas sel yang berproliferasi akibat respon adanya pelukaan. Kelebihan penggunaan kultur kalus dibandingkan dengan kultur lainnya adalah pada kultur kalus menunjukkan penampakan morfologi lebih mudah diamati, terutama warna sehingga mempermudah seleksi warna pigmen yang diinginkan. Betalain merupakan metabolit sekunder berupa pigmen, larut dalam air, mengandung gugus nitrogen dan berperan pada tampilan warna merah-ungu (betasianin) dan kuning-jingga (betasantin). Betalain telah digunakan secara luas sebagai perwarna makanan dan semakin meningkat penggunaannya karena dilaporkan memiliki aktivitas sebagai antioksidan alami yang memiliki efek positif terhadap kesehatan pada manusia. Keberadaan betalain terbatas hanya pada ordo Caryophyllales. Sumber utama betalain berupa serbuk dan/atau konsentrat dari ekstrak akar beet (Beta vulgaris). Kandungan betalain dari red beet sebesar 2.626 µmol g-1 DW betasantin dan 21.187 µmol g-1 DW betasianin yang didapatkan dari bagian akar. Sedangkan dengan kultur kalus kandungan betasantin tertinggi pada fenotip ungu sebesar 28.016 µmol g-1 DW dan betasantin pada fenotip oranye sebesar 12.210 µmol g-1 DW. Bioteknologi penghasil betalain dengan menggunakan kultur kalus sampai saat ini telah diterapkan pada B. vulgaris, selain itu juga pada G. marocephala St.-Hil, Mammillaria candida, dan Portulaca sp. Jewel.

Kata kunci: : betalain, kalus, kultur jaringan

PDF Fulltext

6 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Pemodelan Pertumbuhan Umbi Amorphophallus onchophyllus pada Beberapa Agroforestri di Jawa Timur Menggunakan Program Smart PLS

Endang Arisoesilaningsih1, Serafinah Indriyani1, Rurini Retnowati2, Adji Achmad Rinaldo Fernandes3

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, e-arisoe@ub.ac.id, indriyani.serafinah04@gmail.com
2
Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, rurini_retnowati@ub.ac.id
3Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang,fernandes@ub.ac.id

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk menyusun model pertumbuhan umbi porang secara simultan terkait variasi umur tanaman dan kondisi lingkunga agroforestri di Jawa Timur. Penelitian eksploratif deskriptif dilakukan dengan memperoleh data dan menguji rancangan. Sampling acak dilakukan untuk mengamati data kuantitatif berpasangan untuk faktor pertumbuhan porang, ukuran umbi, faktor lingkungan (geografi, vegetasi, iklim dan tanah) di lima lahan agroforestri di Jawa Timur di empat KPH Madiun, Nganjuk, Blitar dan Bojonegoro. Pada setiap lokasi, dilakukan pengamatan contoh tanaman porang pada empat kelas umur fisiologis (tahun ke 1, 2, 3 dan 4) serta % penyinaran. Pada penelitian ini diamati 107 individu porang sehngga diperoleh data berpasangan yang siap dianalis statistik multivariat menggunakan model struktural Smart Partial Least Square (Smart PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa porang yang tumbuh di lahan agroforestri dengan tegakan utama jati dan sonokeling memiliki kondisi geografi, tanah, penutupan vegetasi dan iklim mikro berbeda. Petani porang mengaku bahwa bibit dan teknik budidaya dipelajari dari petani Desa Klangon KPH Madiun sehingga variasi genetis porang minimal. Model PLS  menunjukkan bahwa kondisi geografis g1 (ketinggian tempat), umur tanaman a1 (kelas umur tanaman), iklim i2 (suhu rata-rata bulanan), tanah s5 (kadar Ca) dan s6 (KTK), vegetasi v2 (% penutupan vegetasi), secara nyata (p-value < 0,05) mempengaruhi pertumbuhan vegetatif porang t2 (jumlah katak), yang selanjutnya mempengaruhi u1 (diameter umbi) dan u3 (volume umbi). Model PLS memiliki nilai predictive-relevance Q2 sebesar 99,87%, sehingga model layak digunakan dan memiliki nilai prediktif yang sangat relevan. Berdasarkan model struktural tersebut, maka optimalisasi budidaya porang diupayakan dengan mengendalikan kondisi lingkungan tanam umbi porang yaitu ketinggian > 400 mdpl, suhu bulanan tidak terlalu rendah, kadar Ca rendah, KTK optimal dan mempertahankan vegetasi penutup tanah.

Kata kunci: agroforestri, model, pertumbuhan, porang, umbi

PDF Fulltext

7 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Isolasi dan Deteksi Aktivitas Selulase Bakteri Asal Kotoran Sapi sebagai Inokulan Pembuatan Kompos

Eva Rinayanti Widiana1, Tri Ardyati1 dan Suharjono1

1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia evarinayantiwidiana@universitasbrawijaya.ac.id

Abstrak

Kandungan mikroba yang tinggi pada kotoran sapi dapat digunakan sebagai kompos organik yang murah dan ramah lingkungan. Penggunaan kompos melalui kotoran sapi melibatkan peran mikroba penghasil selulase yang dapat memecah rantai selulosa menjadi polimer yang lebih sederhana dan mudah dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan. Molekul selulosa yang diproduksi oleh tanaman dan sulit didegradasi mendorong adanya peran bakteri selulolik. Oleh sebab itu penelitian ini betujuan untuk mengetahui isolat bakteri selulolitik dalam bentuk konsorsium yang efektif sebagai inokulan dalam pembuatan kompos. Konsorsium bakteri selulolitik diperoleh dari isolasi sampel kotoran sapi Madiun dan isolat inventaris laboratorium yang telah diteliti sebelumnya. Metode yang digunakan yaitu deteksi potensi selulolitik secara kualitatif dengan pewarnaan Congo Red, uji asosiasi dan deteksi aktivitas enzim selulase dengan metode DNS (Dinitrosalisilic Acid). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan software microsoft office excel 2007 selanjutnya data hasil analisis diinterpretasikan secara kuantitatif deskriptif. Berdasarkan analisis, diperoleh 13 isolat yang berasal dari isolasi sampel kotoran sapi Madiun, namun hanya terdapat tiga isolat yang berpotensi tinggi sebagai bakteri selulolitik yaitu CMeIIb, JMeIa dan JMeIc. Sedangkan isolat laboratorium yang berpotensi selulolitik tinggi yaitu isolat BD3, NS32B, NS42, SBD1, SJS, dan S2S2. Potensi selulolitik diperoleh dari pengukuran indeks zona bening yang terbentuk dengan hasil CMeIIb : 3, 63; JMeIa : 4,55; JMeIc : 3,98; BD3 : 4,77; NS32B : 4,86; NS42 : 3,46; SBD1 : 4,81; SJS : 4,03; dan S2S2 : 3,23. Konsorsium yang diperoleh yaitu KBSL, KBSM, dan KBSLM yang berasal dari isolat-isolat tersebut. Semakin besar indeks zona bening yang terbentuk menunjukkan bahwa produksi enzim ekstraseluler selulase juga semakin tinggi, hal ini ditunjukkan dengan semakin besarnya nilai kerapatan optis yang dihasilkan. Aktivitas selulase konsorsium memiliki nilai kerapatan optis tertinggi pada waktu inkubasi 72 jam dengan konsorsium KBSLM. Hal ini menunjukkan bahwa pemanenan enzim yang sesuai yaitu pada jam ke-72 yang selanjutnya dapat di aplikasikan untuk pengomposan.

Kata kunci: isolat, konsorsium, kotoran sapi, selulolitik

PDF Fulltext

8 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Isolasi, Karakterisasi dan Uji Patogenisitas Bacillus thuringiensis Indigenus Kota Malang yang Berpotensi sebagai Pengendali Larva Aedes aegypti L.

Faridah Dwi Setyowati1, Suharjono2 dan Zulfaidah Penata Gama3

1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, dec_flowers@yahoo.co.id
2 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, calistus@brawijaya.ac.id
3
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang zulfaidah@yahoo.com

Abstrak

Kota Malang berdasarkan data Dinas Kesehatan tahun 2006-2008 merupakan daerah endemis penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit tersebut disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan dapat dicegah  menggunakan agen biologis yaitu Bacillus thuringiensis. Bacillus thuringiensis menghasilkan δ-endotoksin yang bersifat spesifik terhadap A. aegypti dan aman bagi manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fenotip, pertumbuhan dan prevalensi spora serta patogenisitas isolat-isolat B. thuringiensis indigenus Kota Malang dalam mengendalikan larva A. aegypti. Sampel tanah diambil dari Kelurahan Sawojajar dan Purwantoro selanjutnya dari sampel tersebut dilakukan isolasi bakteri dengan media selektif B. thuringiensis. Isolat yang didapatkan diamati karakteristik fenotipnya (Simple Matching Method), kemudian dilakukan penentuan pertumbuhan dan prevalensi spora (metode TPC) serta pengujian patogenisitas pada larva nyamuk instar III. Persentase mortalitas larva antarwaktu dan antarisolat (nilai LC50) dianalisis menggunakan analisis probit dan ragam. Isolat B. thuringiensis yang didapatkan sebanyak 33 isolat, enam isolat bersifat patogen terhadap A. aegypti (PWR4 31, PWR4 32, SWJ4 2b, SWJ4 4b, SWJ4 4k, dan SWJ5 1). Isolat PWR4 32 dengan B. thuringiensis (acuan) memiliki nilai similaritas fenotip 88%. Isolat yang paling tinggi persentase prevalensi sporanya yaitu PWR4 32 sebesar 52,44% dan efektivitas paling tinggi dalam membunuh larva A. aegypti instar III dengan LC50-72jam sebesar 2,3 x108 sel/ml.

Kata kunci: A. aegypti, B. thuringiensis, karakterisasi, patogenisitas

PDF Fulltext

9 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

PATOGENISITAS KAPANG ENTOMOPATOGEN ISOLAT KALIMANTAN BARAT TERHADAP Lepidoshapes beckii Newman HAMA TANAMAN JERUK

Floreta Fiska Yuliarni1, Suharjono1, Bagyo Yanuwiadi1, Otto Endarto2

1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang. sinam07@gmail.com
2)
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu.

Abstrak

Produktivitas jeruk dapat menurun karena penyakit dan serangan hama. Salah satu hama  pada tanaman jeruk adalah kutu sisik coklat (L. beckii Newman) yang dapat dikendalikan dengan menggunakan kapang entomopatogen sebagai biopestisida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui patogenisitas kapang entomopatogen isolat Kalimantan Barat terhadap kutu sisik (L. beckii Newman). Kapang entomopatogen diisolasi dari kutu sisik coklat pada daun tanaman jeruk yang terinfeksi oleh kapang. Isolat kapang tersebut diseleksi patogenisitasnya pada kutu sisik coklat dengan densitas konidia 102 konidia/ml. Isolat yang terseleksi dilakukan uji viabilitas konidia pada media PDA, dilanjutkan dengan uji patogenisitas pada kutu sisik coklat dengan densitas konidia 100-106 konidia/ml. Isolat kapang terseleksi yang patogen pada kutu sisik coklat yaitu KB 10.1 dan KB 10.10. Viabilitas konidia isolat KB 10.1 sebesar 95%, sedangkan isolat KB 10.10 sebesar 55%. Kedua isolat tersebut dapat menyebabkan mortalitas kutu sisik paling tinggi sebesar 69%.

Kata kunci: kapang entomopatogen, kutu sisik coklat, patogenisitas, viabilitas

PDF Fulltext

10 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Uji Potensi  Microbacterium sp. dan Penambahan Daun Orok-orok (crotalaria sp.) dalam Dekomposisi Jerami Padi

Hamdani Mahbub Junaidi, Tri Ardyati dan Suharjono

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uiversitas Brawijaya Malang, Indonesia,hamdani.mahbub@gmail.com

Abstrak

Jerami padi belum banyak dimanfaatkan karena kandungan lignin dan selulosanya tinggi. Pengomposan merupakan salah satu cara pemanfaatanya. Pada penelitian sebelumnya didapatkan bakteri selulolitik dengan aktivitas tinggi yang diidentifikasi sebagai Microbacterium sp. Penelitian ini dilakukan dengan menambahkan Microbacterium sp. dan 10 % daun orok-orok (Crotalaria sp.) dalam dekomposisi jerami padi yang bertujuan untuk menurunkan rasio C/N bahan dan akan mempercepat dekomposisi jerami padi secara alami. Penelitian ini menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, faktor pertama yaitu penambahan Microbacterium sp. dan penambahan daun orok-orok (Crotalaria sp.) 10 % dari volume total bahan dua kilogram dan faktor kedua adalah waktu inkubasi (0, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 hari). Parameter yang diamati meliputi pH, suhu, kelembaban relatif, kadar ammonium,  jumlah total bakteri dan jumlah bakteri selulolitik serta rasio C/N kompos. Hasil inkubasi selama 15 hari didapatkan kompos berwarna coklat kehitaman, dengan bau seperti tanah, teksturnya halus, kadar ammonium tertinggi 3 mg/L didapatkan pada sampel jerami padi disterilkan ditambah Microbacterium sp. dan pada sampel jerami padi disterilkan yang ditambahkan Microbacterium sp. dan daun orok-orok (Crotalaria sp.) 10 %. Kompos terbaik didapatkan pada perlakuan jerami padi disterilkan yang ditambahkan Microbacterium sp. dan daun orok-orok (Crotalaria sp.) 10 % dengan waktu inkubasi 15 hari. Suhu kompos mencapai 28°C, rasio C/N kompos 15/1. Kadar keasaman atau pH kompos mencapai 8,5. Jumlah total bakteri tertinggi didapat pada inkubasi hari ke-15 yaitu 3,66 x 109 CFU/g dan bakteri selulolitik terbanyak terdapat pada inkubasi hari ke-15 dengan jumlah sel 1,37 x 109 CFU/g.

Kata Kunci : Daun orok-orok (Crotalaria sp.), Dekomposisi,  Jerami padi, Microbacterium sp.

PDF Fulltext

11 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

STUDI KERAPATAN STOMATA PADA TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) VARIETAS PEKA DAN TOLERAN TERHADAP SERANGAN JAMUR KARAT DAUN (Puccinia arachidis Speg.)

Hilmiyyah Yulianti 1, Dian Siswanto 2 dan Joko Purnomo 3

1,2 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia
3
Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang, Indonesia

Abstrak

Komoditas kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman pangan berbentuk polong-polongan terpenting kedua setelah kedelai di Indonesia. Produksi kacang tanah dapat turun hingga 57 % akibat serangan jamur karat daun yang disebabkan oleh jamur Puccinia arachidis Speg. dengan penetrasi melalui stomata pada bagian abaksial daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kerapatan stomata pada tanaman kacang tanah varietas peka dan toleran terhadap penyakit karat daun (Puccinia arachidis Speg.) serta mengetahui rata-rata luas daun dan luas kerusakan daun yang terjadi akibat serangan jamur karat daun. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 4 varietas lokal yang peka, 3 varietas non-lokal asal India yang toleran dan 3 varietas lokal yang toleran karat daun. Bagian abaksial daun diolesi dengan kutex dan dikelupas setelah kering, kemudian diamati dengan mikroskop perbesaran 400x untuk menghitung jumlah stomata. Sedangkan untuk menghitung luas daun dan luas kerusakan daun, dilakukan pembuatan pola dengan millimeter block sesuai bentuk daun dan kerusakan yang terjadi, kemudian ditimbang dengan neraca analitik dan  dihitung luasnya. Hasil penelitian pada tanaman kacang tanah yang berumur 11, 12, dan 13 minggu menunjukkan bahwa varietas peka mempunyai daun yang lebih luas dan mengalami kerusakan daun yang lebih parah daripada varietas toleran. Varietas peka  pada umur 11 minggu mempunyai mempunyai kerapatan stomata yang lebih kecil, yaitu berkisar antara 1.280-1.330 buah/mm2 dan berbeda secara nyata (α 0,05) dengan kerapatan stomata varietas toleran. Varietas non-lokal toleran mempunyai stomata 2.100-2.130 buah/mm2, sedangkan varietas lokal toleran mempunyai stomata yang berkisar antara 1.550-1.670 buah/mm2. Ketika kacang tanah berumur 12 dan 13 minggu, rata-rata kerapatan stomata menunjukkan hasil yang tidak signifikan dan menjadi sulit untuk menentukan tingkat ketahanan suatu varietas terhadap penyakit karat daun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada umur 11 minggu, kerapatan stomata dapat digunakan sebagai penciri ketahanan suatu varietas kacang tanah.

Kata kunci: Arachis hypogaea L., kerapatan stomata, Puccinia arachidis Speg.

PDF Fulltext

12 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Status Apel Lokal Malang dan Strategi Konservasinya melalui Pengembangan Agrowisata

Luchman Hakim dan Dian Siswanto

Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, lufehakim@yahoo.comdiansiswanto@brawijaya.ac.id

Abstrak

Tinjauan tentang status apel lokal Malang sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia dan upaya konservasinya sampai saat ini sangat kurang. Tulisan ini pada dasarnya bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pertanian apel di Indonesia saat ini dan potensinya dalam pengembangan agrowisata di masa mendatang. Data diperoleh dari serangkaian kegiatan, yaitu merangkum informasi hasil penelitian terkait apel, kegiatan ekplorasi dan visitasi lapangan untuk mengetahui kondisi riil, dan melakukan wawancara dengan petani. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa saat ini apel dapat tumbuh dengan baik di kawasan tropis. Namun, kondisi pertanian apel diketahui terancam sehingga diperlukan tindakan konservasi secara terintegrasi. Ancaman terhadap kelangsungan pertanian apel adalah penggunaan bahan-bahan kimia secara berlebihan yang mengakibatkan turunnya kuantitas dan kualitas hasil pertanian. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, agrowisata berbasis apel dapat dipromosikan sebagai kunci penting bagi konservasi tanaman apel. Dalam hal ini, mempromosikan pertanian berkelanjutan dengan mengedepankan pertanian organik menjadi strategi penting menuju agrowisata apel yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Kata kunci: Apel Malang, konservasi sumberdaya, agrowisata

PDF Fulltext

13 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB,  2010

Isolasi, Karakterisasi dan Pertumbuhan Bakteri dari Sarang Burung Walet (Collocalia fuchiphaga)dalam Media Glukosa dan Sukrosa

Luluk Fariidah 1*) Suharjono 1) dan Osfar Sjofjan 2)

1 Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia
3
Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia *) E-mail : lulu_fary@yahoo.com

Abstrak

Sarang burung walet merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi. Usaha meningkatkan populasi burung walet guna memenuhi permintaan sarang tersebut antara lain dengan pemberian aroma walet. Aroma walet merupakan hasil fermentasi bakteri dengan memanfaatkan substrat sarang burung walet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat diversitas dan dominansi, similaritas fenotip antarisolat, serta laju pertumbuhan bakteri dari sarang burung walet (Collocalia fuchiphaga) dalam media glukosa dan sukrosa. Penelitian ini dilakukan menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan variasi media. Langkah penelitian meliputi isolasi, karakterisasi, penghitungan Indeks Nilai Penting (INP) dan indeks diversitas (H’), seleksi (patogenitas dan asosiasi), uji pertumbuhan bakteri dari sarang burung walet dalam media glukosa dan sukrosa. Parameter yang diamati yaitu densitas sel. Data tersebut dianalisis ragam (ANOVA) dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan tingkat kepercayaan 95 % menggunakan program SPSS 13. Isolasi bakteri dari sarang burung walet menghasilkan enam isolat. Isolat SR 4 bersifat dominan dan memiliki peranan penting dalam komunitas sarang burung walet yang ditunjukkan dengan nilai INP tertinggi yaitu 101 % atau 50,5 % dari komunitas isolat bakteri. Diversitas bakteri dari sarang burung walet dapat dikatakan rendah, yaitu sebesar 0,97. Semua isolat bakteri dari sarang burung walet memiliki nilai similaritas fenotip sebesar 74 %. Laju pertumbuhan konsorsium isolat bakteri dari sarang burung walet dalam media sukrosa paling cepat yaitu 0,72 generasi/jam dengan waktu generasi 0,96 jam atau (58 menit).

Kata kunci: bakteri, burung walet, glukosa, isolasi, karakterisasi, sarang, sukrosa

PDF Fulltext

14 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Densitas dan Distribusi Kristal Kalsium Oksalat Dalam Umbi Dua Varian Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di KPH Saradan, Jawa Timur pada Siklus Pertumbuhan Ketiga

Maurissa A. E.1, Retno Mastuti2, Nunung Harijati3

1Maurissa A. E., Retno M., Nunung H., FMIPA, Universitas Barwijaya, Malang
1
maurissaandhita@ymail.com , 2mastuti7@brawijaya.ac.id, 3nunung2007@yahoo.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, kerapatan dan distribusi kristal kalsium oksalat dalam umbi dua varian porang (A dan C) di KPH Saradan, Jawa Timur pada tiga periode pengamatan dalam siklus pertumbuhan ketiga. Periode pengamatan didasarkan perbedaan morfologi tanaman porang. Umbi porang dengan berat relatif seragam dipotong melintang dan dibagi menjadi bagian tepi dan tengah. Setiap bagian diiris (1×1±0,01 cm), direndam dalam alkohol 96% (1-2 hari) yang dilanjutkan dalam NaOH 10% (± 1 jam). Kerapatan dan bentuk kristal kalsium oksalat pada tiga periode pengamatan dianalisis dengan ANOVA (α 5%) yang dilanjutkan uji Tukey. Distribusi kerapatan kristal dalam umbi dianalisis dengan uji T. Umbi dua varian porang pada tiga periode pengamatan memiliki bentuk dan pola distribusi kerapatan kristal kalsium oksalat yang sama. Beberapa bentuk kristal kalsium oksalat yang ditemukan adalah druse, rafida (besar dan kecil) dan kristal yang belum teridentifikasi yang disebut X1. Kristal rafida kecil dan druse memiliki kerapatan tertinggi. Kerapatan kristal kalsium oksalat dua varian porang pada periode pengamatan pertama lebih rendah dibandingkan periode pengamatan kedua. Kerapatan kristal kalsium oksalat pada periode pengamatan ketiga umbi porang varian A paling tinggi dibandingkan dua periode pengamatan sebelumnya. Sebaliknya, kerapatan kristal kalsium oksalat umbi porang varian C pada periode pengamatan ketiga paling lebih rendah dibandingkan dua periode pengamatan lainnya. Kerapatan kristal bagian tengah umbi lebih tinggi dibandingkan bagian tepi.

Kata kunci : kristal kalsium oksalat, periode  pengamatan, umbi porang

PDF Fulltext

15 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

CD4+CD25+FOXP3+ regulatory T cells promote the development of native T cells in bone marrow transplantation

Muhaimin Rifa’i

Brawijaya University, Malang, 65145,  Indonesia

Abstract

CD4+CD25+ regulatory T cells (Treg) known as naturally occurring are believed to be key players of the immune tolerance network and control the induction and effector phase of the immune system. Over the past few years, a number of animal studies have demonstrated the critical role of these cells in the outcome of allogeneic bone marrow transplantation (BMT). In allogeneic BMT, Treg can exert a potent suppressive effect on immune effector cells reactive to host antigens and prevent graft versus host disease (GVHD) while preserving the graft-versus-leukemia effect (GVL). In allogeneic BMT system of transferring C57BL/6-derived marrow graft into host BALB/c mice, we observed that co-transfer of CD4+CD25+FOXP3+ T cells derived from donor type along with the donor bone marrow cells could control GVHD-like reactions by suppressing the activity of host T cells responding to the donor hematopoietic compartment, and resulted in prevention of autoimmunity and rejection. We further demonstrate that CD4+CD25+FOXP3+ regulatory T cells can control immune-based morbidity after allogeneic BMT by suppressing the development of activated memory T cells and maintaining normal hematopoiesis.

Keywords: Bone Marrow Transplantation, Regulatory T cells, CD4+CD25+FOXP3+.

PDF Fulltext

16 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Potensi dan Ancaman Ikan Lempuk Sebagai Flag Species Untuk Konservasi Danau Ranu Grati, Pasuruan

Muhamad Imam, Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang

Endang Arisoesilaningsih, Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan ancaman ikan lempuk sebagai flag species di Danau Ranu Grati. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2009 di danau Ranu Grati Pasuruan Jawa Timur. Danau Ranu Grati merupakan danau yang terbentuk secara alami yang dijadikan sebagai destinasi wisata oleh pemerintah daerah setempat. Ikan lempuk diduga sebagai ikan endemik di danau Ranu Grati sehingga dijadikan icon pariwisata oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan, namun tidak ada informasi tentang nama ilmiah ikan tersebut. Selain itu, Ikan Lempuk menjadi salah satu komoditas ekonomi bagi masyarakat di sekitar danau Ranu Grati. Berdasarkan hasil identifikasi, ikan lempuk memiliki nama ilmiah Gobiopterus brachypterus (Bleeker, 1855). Ikan ini merupakan famili Gobiidae dari kelas Actinopterygii (Kottelat et al. 1993). Hal itu dicirikan oleh perbandingan lebar badannya yang mencapai kira-kira 6 kali lebih pendek dari Panjang Standar (SL), badan dan kepala pipih datar, pipi dan operkulum mempunyai sebuah tanda hitam, bagian tengah dan sirip punggung pertama di bagian depan mempunyai pigmen hitam, jarak antara dua mata hampir satu setengah kali diameter mata. Persebaran ikan ini terdapat di Sumatera, Jawa, Filipina dan Australia. Ikan lempuk merupakan ikan yang hidup secara berkelompok. Kondisi Kimia-Fisik perairan Ranu Grati mengalami perubahan apabila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2003, tingkat kekeruhan bertambah dan oksigen terlarut berkurang. Area kolam apung yang semakin luas diduga memberikan kontribusi terhadap perubahan kondisi perairan Danau Ranu Grati. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan ikan lempuk dan habitatnya sangat rendah. Hanya 12,9 persen responden berpendapat bahwa ikan lempuk dan habitatnya perlu dilestarikan. Keberadaan ikan lempuk yang semakin terancam dapat menjadi argumen yang kuat untuk konservasi habitat Danau Ranu Grati

PDF Fulltext

17 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Analisis Potensi Indegenous Knowledge (IK) Desa Ngadas Sebagai Atraksi Wisata

Muhammad Syafi’i1, Luchman Hakim2, Bagyo Yanuwiyadi2

1Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang, E-mail: afixs_82@yahoo.com
2Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi bentuk-bentuk Indegenous Knowledge (IK) masyarakat Ngadas sebagai atraksi wisata desa (ecotourism). Metode yang digunakan deskriptif eksploratif dengan distribusi kuisioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk IK antara lain meliputi keberadaan lansekap budaya (cultural landscape), pengelolaan tanah secara tradisional dan pemanfaatan sumber daya alam terkait kegiatan sosio-kultural masyarakat sebagai komponen penting dalam pelestarian sumber daya alam. Keberadaan lansekap budaya ditunjukkan dengan adanya Pedanyangan, Punden Kutugan, dan Kampung Kramat “Makam Mbah Sidek”. Keberadaan bentuk lansekap budaya ini sangat berpotensi sebagai atraksi wisata. Hasil nilai kuisioner dari responden menyatakan bahwa bentuk-bentuk IK yang potensial sebagai aset atraksi wisata adalah Pedanyangan (56% menarik dan 27% sangat menarik), Punden Kutugan (64% menarik dan 23% sangat menarik), Pancuran Peteteh (62% menarik dan 27% sangat menarik) dan Kampung Kramat “Makam Mbah Sidek” (64% menarik dan 26% sangat menarik). Selain itu, kegiatan pengelolaan tanah secara tradisional dinyatakan sangat potensial (79% menarik dan 18% sangat menarik). Dalam strategi konservasi keanekaragaman hayati, lansekap budaya tersebut juga berperan dalam melindungi IK masyarakat setempat. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan keberadaan lansekap budaya dan sumber daya alam yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Kegiatan pertanian tradisional yang masih diterapkan antara lain adalah kegiatan mencangkul (mola), menyemai benih atau menanam (manja), mengairi, memupuk (ngerabuk), pembuatan bibit (pembibitan) dan memanen (nduduk, ndaut, mbacok, mecok). Pemanfatan tumbuhan dalam kehidupan sosio-kultural yang menarik sebagai atraksi antara lain adalah upacara karo (pingpitu, perpekan, sesanding/dederek, sadranan), upacara kasodo, entas-entas, unan-unan, upacara sunatan dan tugel kuncung, upacara pertunangan dan perkawinan. Mayoritas Masyarakat Ngadas (n= 66) menyatakan bahwa bentuk-bentuk IK tersebut menarik (66%) dan sangat menarik (25%). Sedangkan masyarakat umum (n=20) menyatakan bahwa bentuk-bentuk IK tersebut menarik (50%) dan sangat menarik (25%). Hal ini dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk IK berpotensi sebagai atraksi wisata di Desa Ngadas.

Kata kunci : Atraksi wisata, Bentuk-bentuk Indegenous Knowledge (IK), Desa Ngadas

PDF Fulltext

18 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Dua Model Carbon Stock Dan Kualitas Diversitas Vegetasi Di Area Penghijauan Kebun Raya Purwodadi

Muhammad Yusuf1, Soejono2 dan Endang Arisoesilaningsih3

1Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia cupy.gahtuk@gmail.com
2UPT Kebun Raya Purwodadi-LIPI, Pasuruan, Indonesia soejono@lipi.go. id
3Jurusan Biologi, Fakultas MIPA,Universitas Brawijaya, Malang, e-arisoe@ub.ac.id

ABSTRAK

Penelitian  ini  bertujuan  untuk membandingkan model  penyimpanan karbon  (C  stock)  dan  kualitas  diversitas pada dua vak dengan vegetasi monokultur eksotik (Vak VII) dan heterokultur  endemik-eksotik (Vak VIII) di Kebun Raya Purwodadi. Penentuan kedua vak ini didasarkan pada nilai Indeks diversitas (H) kedua vak tersebut. C stock pada  perdu  dan  pohon  diukur  secara  sensus  sedangkan  untuk  herba  dilakukan  secara  sampling  menggunakan metode kuadrat  ukuran  1×1 m2. Besarnya C  stock  serasah  ditentukan  berdasarkan  penelitian  yang  dilakukan  oleh Putri pada tahun 2009. Pada setiap spesies perdu dan pohon diukur tinggi, diameter serta diambil contoh berupa ranting untuk diukur berat jenis kayu agar dapat digunakan menentukan C stock dengan rumus allometrik. C stock herba ditentukan pada petak contoh yang dibuat, dipisahkan dan dikeringkan berdasarkan spesies yang ditemukan kemudian  ditimbang.  Analisis  kualitas  diversitas  dilakukan  dengan  menentukan  spesies,  jumlah  dan  status endemisme  spesies  di  kedua  vak.  Status  endemisme  spesies  didasarkan  pada  phytoregion.  Vak  VII  memiliki keunggulan kekayaan  spesies  pohon dan C  stock  150%  lebih  besar  daripada  vak VIII.  Hal  ini  terkait dominansi spesies  eksotik  (Swietenia  macrophylla)  yang  cepat  tumbuh.  Sedangkan  vak  VIII  memiliki  keunggulan  kekayaan spesies perdu endemik, herba endemik, indeks diversitas pohon 4,21 dan dominansi C stock oleh spesies pohon dan perdu endemik.  Vak VII dan vak VIII memiliki model kapasitas penyimpanan karbon yang hampir sama dimana C stock  paling  besar  disumbangkan  oleh  kelompok  tanaman  pohon  (≥84%).  Model  penghijauan  vak  VIII  lebih berkualitas  dengan  penambahan  spesies  pohon  endemik  yang  cepat  tumbuh  dan  pengurangan  kekayaan  spesies perdu eksotik agar memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang besar.

Kata kunci: Kebun Raya Purwodadi, kualitas diversitas, penyimpanan karbon, vegetasi

PDF Fulltext

19 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Eksplorasi  Amorphophallus sp endemik Jawa Timur yang tinggi glukomanan dan rendah alergenitasnya.

Nunung Harijati*), Rodliyati Azrianingsih*), Sri Widyarti *)

*) Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya. Harijati2002@yahoo.com

Abstrak

Amorphophallus merupakan salah satu sumber potensial glukomanan. Sementara ini Amorphophallus yang diketahui merupakan sumber glukomanan komersial  bukan berasal dari spesies yang ada di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Oleh karena itu diperlukan eksplorasi untuk mencari Amorphophallus berglukomanan tinggi asal Jawa Timur. Dari total 16 lokasi yang dipilih yang merupakan wakil dari Jawa Timur bagian Barat, Utara, Timur dan Selatan, Amorphophallus di temukan di 10 lokasi. Lokasi tersebut mepunyai ketinggian 20-540 m dpl. Amorphophallus yang ditemukan dapat dikelompokkan menjadi empat spesies yaitu Amorphophallus variabilis, Amorphophallus muelleri, Amorphophallus campanulatus, dan spesies yang belum bisa dikarakterisasi karena belum berbunga hingga akhir penelitian. Berdasarkan warna umbi diketahui ada dua warna dasar umbi, yaitu kuning dan putih. Semua Amorphophallus yang berumbi putih mengandung glukomanan, sedangkan yang berumbi kuning hanya Amorphophallus muelleri secara signifikan menunjukkan mengandung glukomanan, sedang yang lainnya dengan metode yang sama tidak nyata menunjukkan. Dari uji alergenitas diketahui respon dari Amorphophallus variabilis diketahui dari tidak menimbulkan reaksi, lidas  hingga sedikit menimbulkan luka. Sedangkan untuk Amorphophallus muelleri, Amorphophallus campanulatus tidak menghasilkan reaksi alergi. Untuk suweg yang belum diketahui spesiesnya menimbulkan reaksi mengkerut pada kulit hingga luka berat. Suweg putih (Amorphophallus variabilis) dan suweg kuning (Amorphophallus muelleri) yang berglukomanan tinggi (13.67%; 16.78%) masing-masing berasal dari KPH brongkos dan Klangon.

Kata kunci : Glukomanan, Amorphophallus variabilis, A. muelleri, A. Campanulatus, alergi

PDF Fulltext

20 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Kandungan Asam Oksalat Terlarut dan Tidak Terlarut pada Umbi Dua Varian Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di KPH Saradan, Madiun Jawa Timur pada Siklus Pertumbuhan Ketiga

Rendra Aji Saputra1, Retno Mastuti2 dan Anna Roosdiana3

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang,putrabio_brawijaya@yahoo.co.id
2
Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang,mastuti7@brawijaya.ac.id
3
Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya,  Malang, aroos@brawijaya.ac.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan asam oksalat terlarut dan tidak terlarut dalam umbi dua varian porang (A dan C) di KPH Saradan, Jawa Timur pada tiga periode pengamatan dalam siklus pertumbuhan ketiga. Pembagian ketiga periode pengamatan didasarkan atas perbedaan morfologi tanaman porang. Umbi porang yang memiliki berat relatif seragam diparut kemudian dianalisis dengan metode volumetri untuk mengetahui kandungan asam oksalat terlarut dan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) untuk mengetahui kandungan asam oksalat tidak terlarut. Konversi nilai kandungan asam oksalat terlarut dan tidak terlarut dianalisis dengan ANOVA (α=5%) yang dilanjutkan dengan uji Tukey. Tinggi dan rendah kandungan asam oksalat terlarut dan asam oksalat tidak terlarut umbi dua varian porang pada 3 periode pengamatan dalam siklus pertumbuhan ketiga memiliki kesamaan. Kandungan asam oksalat terlarut dalam umbi dua varian porang pada periode pengamatan kedua tertinggi dibandingkan periode pengamatan pertama dan ketiga. Kandungan asam oksalat terlarut lebih kecil dibandingkan dengan kandungan asam oksalat tidak terlarut. Kandungan asam oksalat terlarut dan asam oksalat tidak terlarut pada umbi porang varian C memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan umbi porang varian A. Kandungan asam oksalat terlarut dan asam oksalat tidak terlarut sesuai dengan penambahan berat umbi, kecuali pada periode pengamatan ketiga.

Kata kunci: asam oksalat terlarut, asam oksalat tidak terlarut, periode pengamatan, umbi porang

PDF Fulltext

21 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Pigmen Betalain pada Famili Amaranthaceae

Retno Mastuti

Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang,mastuti7@brawijaya.ac.id ; rmastuti@yahoo.com

Abstrak

Betalain merupakan pigmen yang tidak hanya mempunyai arti penting dalam fisiologi tanaman, daya tarik visual bagi polinator dan penyebaran biji tetapi juga pada makanan terutama pada nilai aestetikanya. Pigmen betalain yang mengandung nitrogen dan bersifat larut dalam air terdiri dari betaxanthin berwarna kuning dan betacyanin berwarna merah-violet. Pada buah dan sayuran segar maupun yang telah diproses betalain tidak hanya meningkatkan atau memperbaiki tampilan secara keseluruhan tetapi juga berkontribusi pada kesehatan dan kehidupan masyarakat sebagai konsumen. Famili Amaranthaceae merupakan salah satu anggota Ordo Caryophyllales yang berpotensi sebagai sumber pigmen betalain. Betalain telah banyak diteliti pada genus Amaranthus, Celosia, Gomphrena, dan Iresine. Kajian pigmen betalain telah dilakukan pada 388 genotipe dari 37 species, terutama Amaranthus. Enam belas jenis betasianin dan tiga jenis betaxanthin telah diisolasi dan dikarakterisasi. Betasianin total pada berbagai tanaman Amaranthus berkisar antara 46 – 199 mg/100 g BB tanaman. Amaranthus yang telah dibudidayakan mempunyai biomassa yang lebih tinggi dan mengandung betasianin lebih banyak dibanding species liarnya. Betasianin maupun betaxanthin Amaranthcaeae sangat berpotensi sebagai pewarna komersial karena dalam bentuk bubuk kering keduanya sangat stabil pada suhu 25°C dengan retensi pigmen 78-95.6% dan t1/2 23.3 bulan. Betalain juga merupakan dietary cationized antioxidants yang prospektif walaupun pada konsentrasi rendah. Dari 19 jenis betalain yang telah diuji semuanya menunjukkan aktivitas antioksidan yang cukup tinggi. Aktivitas antimalaria juga telah ditunjukkan betasianin A. spinosus. Kandungan kation pada betasianin diduga berperan sebagai kofaktor enzim ribonukleotida reduktase pada Plasmodium.

Kata kunci: Amaranthus, Betalain, Celosia

PDF Fulltext

22 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN HABITAT PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) PADA LIMA AGROFORESTRI DI JAWA TIMUR DENGAN KANDUNGAN OKSALAT UMBI

Serafinah Indriyani1, Endang Arisoesilaningsih1, Tatik Wardiyati2 dan Hery Purnobasuki3

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang, s.indriyani@brawijaya.ac.id; indriyani.serafinah04@gmail.com
2 Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang
3 Jurusan Biologi, Fakultas Sain dan Teknologi, Surabaya

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan faktor iklim dan tanah terkait dengan akumulasi oksalat dalam umbi porang serta kondisi lingkungan habitat porang pada5 ( lima) agroforestri. Porang dikoleksi dari 4 (empat) periode tumbuh dan dari 5 (lima) lokasi agroforestri porang di Jawa Timur yaitu Desa Klangon Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun (KPH Saradan), Desa Klino Kecamatan Sekar Kabupaten Bojonegoro (KPH Bojonegoro), Desa Bendoasri Kecamatan Rejoso Kabupaten Nganjuk (KPH Nganjuk), Desa Sugihwaras Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk (KPH Nganjuk) dan Desa Kalirejo Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang (KPH Blitar). Variabel iklim yang diamati meliputi indikator ketinggian tempat, persentase penyinaran, suhu dan curah hujan. Variabel vegetasi yang diamati meliputi indikator jenis tegakan dan persentase penutupan gulma.Variabel tanah yang diamati meliputi indikator konduktivitas tanah, pH tanah, kandungan kalsium tersedia dalam tanah dan kapasitas tukar  kation (KTK). Variabel pertumbuhan vegetatif porang yang diamati meliputi indikator tinggi tanaman, diameter tajuk dan diameter batang semu. Variabel umbi yang diamati meliputi indikator diameter umbi dan berat umbi. Variabel oksalat yang diukur meliputi indikator  oksalat total, oksalat terlarut dan oksalat tak larut. Kandungan oksalat umbi porang diukur berdasarkan AOAC (1990). Data dianalisis dengan korelasi Pearson serta Manova dilanjutkan dengan Anova one way dan Tukey HSD pada α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel iklim yang memiliki korelasi positif dengan kandungan oksalat umbi porang adalah indikator suhu dan curah hujan. Variabel vegetasi yang memiliki korelasi positif dengan kandungan oksalat umbi porang adalah indikator persentase penutupan gulma. Variabel tanah yang memiliki korelasi positif dengan kandungan oksalat umbi porang adalah indikator kandungan kalsium tersedia dalam tanah dan KTK, sedangkan indikator yang memiliki korelasi negatif adalah pH tanah. Variabel pertumbuhan vegetatif dan umbi porang tidak memiliki korelasi dengan kandungan oksalat umbi. Faktor lingkungan meliputi iklim dan tanah yang diamati pada lima  agroforestri porang adalah bervariasi. Kandungan oksalat total umbi porang tertinggi didapatkan di Desa Klino sebesar 0,0774 ± 0,0138%  sedangkan terendah didapatkan di Desa Bendoasri sebesar 0,0233 ± 0,0002%.

Kata kunci: hubungan, iklim, oksalat, porang, tanah

PDF Fulltext

23 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Uji Alergenitas Berbagai Varian Umbi Porang (Amorphophallus oncophyllus Hook.) dengan metode ELISA Ig-E

Sofy Permana1, Sri Widyarti1, Serafinah Indriyani1, Dian Siswanto1, Aris Soewondo1, Luccy Mutia Lingga Dewi1 dan Indrian Rizka Amalia1

1 Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, UniversitasBrawijaya, Malang, sofybraw@yahoo.com

Abstrak

Porang (Amorphophalus oncophyllus Hook) merupakan tanaman penghasil umbi yang saat ini sedang digalakkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor dari Jawa Timur dan sebagai bahan baku beberapa industri di dalam negeri. Prospek Porang sebagai makanan kesehatan cukup menarik, namun masih diperlukan beberapa kajian mengingat umbi porang berpotensi menimbulkan alergi pada sebagian orang. Penyebab alergi Porang diduga berasal dari kandungan kristal kalsium oksalat pada umbi porang yang menimbulkan rasa gatal atau panas di dalam mulut. Namun alergi pada makanan biasanya berupa protein yang tidak mengalami perubahan selama proses pencernaan. Diketahui terdapat empat tipe kristal kalsium oksalat yaitu druse, rafida, prisma dan pasir. Berbagai protein berperan dalam pembentukan kristal kalsium oksalat (protein matriks) yang meliputi Asp-rich acidic proteins dan Ser-rich,yang mempunyai kemampuan yang sangat kuat untuk mengikat kalsium. Dari hal tersebut substansi alergen pada umbi porang adalah protein matriks pada kristal bukan kristal kalsium oksalat. Alergen pada makanan biasanya berupa protein yang tidak mengalami perubahan selama proses pencernaan dan pengolahan makanan. Pada penelitian awal Uji Alergenitas ini, telah dilakukan uji alergenitas pada berbagai varian porang mentah (var. Sumber Baru-Jember ;  var. Klangon, Saradan-Madiun dan var. Sumber Bendo, Saradan-Madiun) dengan metode ELISA IgE dari serum tikus putih (Rattus sp)  yang sebelumnya  mendapatkan pencekokan tepung umbi porang mentah. Hasil Uji Alergenitas dengan ELISA Ig-E ini menunjukkan bahwa potensi alergenitas umbi porang secara berturut-turut adalah Porang var. Sumber Baru (Jember) > Porang var. Klangon – Saradan (Madiun) > Porang var. Sumber Bendo – Saradan (Madiun).

Kata kunci: Porang, Alergenitas, ELISA, Ig-E

PDF Fulltext

24 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

IDENTIFIKASI POLIMORFISME GEN KALPASTATIN (Cast) EXON 19-20 PADA SAPI PO (PERANAKAN ONGOLE) DENGAN METODE PCR-RFLP

Sri Rahayu1), Jayarani 1), Agus Susilo2), M.Sasmito Djati1),Suyadi2)

1Jurusan Biologi, FMIPA, Unibraw 2Fakultas Peternakan, Unibraw

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui polimorfisme gen Kalpastatin Exon 19-20 pada sapi PO. Sampel darah sebagai sumber DNA dikoleksi dari vena jugularis dengan menggunakan tabung venoject yang mengandung bahan antikoagulan, EDTA sebanyak 5 – 6 ml setiap ekor sapi. DNA diisolasi dari sel limfosit menurut metoda standar. Untuk mengetahui keberhasilan isolasi DNA dilakukan pengamatan secara kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer dan pengamatan secara kualitatif dengan menggunakan elektroforesis agarosa 1 %. Amplifikasi dilakukan dengan menggunakan sepasang primer DNA yaitu Primer Forward: 5’-ATCCAGAAGACGGAAAGCCT-3’, sedangkan primer Reverse yang digunakan adalah : 5’-CTCACGATCCTCTTCTTTGG-3’. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan hasil pita DNA yang spesifik yaitu terdapat satu pita DNA untuk gen kalpastatin dengan ukuran 600 bp. Selanjutnya untuk melihat adanya polimorfisme dilakukan PCR-RFLP menggunakan enzim HaeIII. Hasil PCR-RFLP menunjukkan adanya 2 macam haplotip yaitu haplotip 1 dengan dua fragmen (400 dan 250 bp), dan haplotip 2 dengan tiga fragmen (300, 150, dan 100 bp). Pola potongan pita DNA yang bervariasi diantara individu sapi PO ini menunjukkan bahwa terdapat polimorfisme untuk gen CAST Exon 19-20 pada sapi PO.

Kata Kunci : sapi PO, gen Kalpastatin

PDF Fulltext

25 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Studi level mRNA MnSOD pada hepar mencit yang terpapar formalin subkronik

Sri Widyarti1), Fatchiyah1), Susiati1), Perdana Finawati Putri1), Ami Maghfironi1), Wibi Riawan2)

1)Jurusan Biologi Fakultas MIPA, 2) Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya, Malang, e-mail: swid@ub.ac.id

Abstrak

Meskipun dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, formalin telah disalahgunakan sebagai pengawet makanan.  Sejauh ini belum ada keluhan dari masyarakat tentang dampak makanan berformalin.  Sebagai bahan genotoksik, formalin berpotensi menyebabkan kerusakan DNA. Namun sejauh ini belum diketahui apakah paparan formalin dapat berdampak langsung pada DNA, sehingga menigkatkan kerentanan terhadap resiko kanker. Untuk mendapatkan penjelasan ilmiah tentang dampak formalin pada level transkriptom, maka penelitian ini disusun untuk membuktikan ada tidaknya perubahan level mRNA MnSOD pada hewan coba  Mus musculus yang terpapar formalin.  Mencit dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) kelompok kontrol tanpa paparan formalin; (2) kelompok formalin 5 mg/kg BB; (3) kelompok formalin 25 mg/kg BB. Sediaan formalin dalam bentuk cairan dimasukkan langsung ke lambung mencit lewat kerongkongan menggunakan sonde.  Pemberian paparan dilakukan setiap hari selama 70 hari (paparan subkronis).  Setelah perlakuan, mencit dibunuh kemudian dibedah secara aseptis, dan diambil organ hepar untuk dilakukan isolasi RNA.  Isolasi RNA total dilakukan menggunakan NucleoSpin RNA-II Kit.  Kadar RNA diukur menggunakan spektrofotometer uv-vis. Probe untuk analisis level mRNA MnSOD berupa cDNA yang dibuat dari hasil RT-PCR menggunakan primer  forward MnSOD 5’-GACCTGCCTTACGACTATGG-3’ dan primer reverse MnSOD 5’-GAGCTTGCTCCTTATTGAAGG-3’.  Probe cDNA selanjutnya dilabel menggunakan Biotin-Nick Translation Mix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level mRNA MnSOD hepar pada perlakuan formalin 2 mg/kg BB lebih tinggi (30%) dari pada kontrol.  Level mRNA MnSOD semakin meningkat (70%) pada perlakuan formalin 25 mg/kg BB. Hal ini mengindikasikan adanya stres oksidatif yang disebabkan oleh formalin.  Semakin tinggi konsentrasi formalin, stres oksidatif yang ditimbulkan juga semakin tinggi.

Kata kunci: formalin, level mRNA MnSOD

PDF Fulltext

26 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Studi Glukomanan Sebagai Alternatif Pencegahan Diabet

Arum S.S(1,2), Fatchiyah(1,2), M.Sasmito Djati(1)

(1)Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,Universitas Brawijaya, Malang
(2)
Laboratorium Sentral Ilmu Hayati, Universitas Brawijaya, Malang

Abstrak

Diabetes merupakan suatu penyakit dimana kadar glukosa darah tinggi karena tubuh tidak dapat memenuhi kebutuhan insulin dalam jumlah yang cukup. Pemberian porang pada tikus diabet dapat menyebabkan terjadinya peningkatan level mRNA gen proinsulin. Porang merupakan umbi – umbian yang mengandung glukomanan. Pemberian glukomanan dapat menyebabkan kadar glukosa menurun. Hal inilah yang ingin diuji oleh peneliti dengan mengamati pengaruh pemberian glukomanan terhadap jaringan hepar tikus diabetes mellitus dan mengamati keberadaan protein dalam insulin signaling dalam hal ini adalah protein Insulin reseptor substrat 1 (IRS-1) dan phosphatidilinositol 3 kinase (PI3K) dengan menggunakan metode imunohistokimia dan Hematoxilen Eosin. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui apakah ekspresi protein IRS 1 dan PI3K pada sel  hepar tikus diabet meningkat dengan pemberian glukomanan. Penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat semakin meningkatnya penderita diabetes di Indonesia dan melimpahnya sumber daya porang yang tersedia di Indonesia.Pada penelitian ini digunakan tikus putih (Rattus norvegicus) jantan strain  Wistar  3 bulan dengan berat rata-rata 160 g dibagi menjadi 6 kelompok yaitu : (1) kelompok 1 sebagai normal, (2) kelompok 2 tikus diabet, (3) kelompok 3 yaitu tikus normal dicekok tepung porang sebanyak 0.06g/kg BB porang, kelompok (4) tikus normal dicekok  tepung porang sebanyak 0.12 g/kg BB porang , kelompok (5) tikus normal dicekok  tepung porang sebanyak 0,06 g/kg BBs, kelompok (6) tikus normal dicekok tepung porang sebanyak 0,12 g/kg BB. Kemudian dilakukan pembedahan dan diambil organ hepar tikus. Jaringan hepar yang didapat kemudian dibuat preparat. Setelah itu dilakukan pengujian dengan pewarnaan hematoksilen eosin dan imunohistokima. Imunohistokimia dilakukan dengan antibodi primer IRS-1 dan PI3K sedangkan antibodi sekundernya adalah fluorescein-labeled Affinity Purified Antibody to rat IgG-goat. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa glukomanan  tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar protein IRS 1 dan PI3K pada hepar  tikus diabet.

Kata kunci : diabet, gukomanan, porang dan tikus

PDF Fulltext

27 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

IDENTIFIKASI NYAMUK DI KELURAHAN SAWOJAJAR  KOTA MALANG

Bekti Dyah Lestari, Zulfaidah Penata Gama, Brian Rahardi

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang

ABSTRAK

Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada suatu wilayah mengindikasikan tingginya populasi nyamuk pada wilayah tersebut. Jenis dan kepadatan nyamuk mempengaruhi penyebaran penyakit DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis dan model distribusi nyamuk di Kelurahan Sawojajar. Nyamuk ditangkap di lima lokasi out door dan lima lokasi in door Kelurahan Sawojajar menggunakan jaring serangga modifikasi dan diidentifikasi. Titik koordinat lokasi pengambilan sampel disimpan menggunakan GPS dan dilakukan pengukuran intensitas cahaya, suhu dan kelembaban relatif. Analisis data dilakukan secara kuantitatif untuk menentukan K, KR, F dan FR. Model distribusi nyamuk dirancang menggunakan software ArcGIS 9.1. Spesies yang ditemukan terdiri atas empat spesies yaitu Aedes aegypti, Aedes albopictus, Aedes triseriatus dan Culex quinquefasciatus. Spesies A. albopictus lebih banyak dan sering ditemukan di lokasi out door sedangkan A. aegpti lebih sering ditemukan di lokasi in door. Jalan Danau Seriang merupakan daerah irisan dari empat lokasi in door sehingga pada lokasi tersebut ditemukan empat jenis nyamuk. Nyamuk A. albopictus dan C. quinquefasciatus ditemukan di Jalan Danau Matana yang merupakan daerah irisan dari empat lokasi out door.

Kata kunci: Diurnal, Kepadatan, Nyamuk, Sawojajar

PDF Fulltext

28 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Beberapa Varian Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di Klangon, KPH Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur

Evit Endriyeni1dan Nunung Harijati2

1Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang,  ewitaendrya@gmail.com
2
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang, harijati2002@yahoo.com

Abstrak

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan salah satu tanaman penghasil umbi  yang termasuk dalam familia Araceae yang telah lama dikenal di Indonesia. Umbi tanaman ini mengandung serat yang tinggi tanpa kolesterol dan glukomanan yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan makanan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui macam-macam  varian yang ditemukan di Klangon. Dengan menggunakan  metode eksploratif deskriptif, sampel-sampel tanaman Porang  yang didapatkan dari lapang dikarakterisasi morfologinya yang terdiri dari tiga puluh item. Sebagai pembeda utama digunakan karakter lebar tajuk, bentuk totol dan warna petiolus serta warna daging umbi . Dari hasil karakterisasi tersebut didapatkan tiga varian yang diberi nama varian 1, 2, dan 3. Varian 1 mempunyai corak totol-totol berupa garis berwarna putih dengan dasar warna hijau muda pada tangkai daun. Varian 2 bercorak belah ketupat  dengan dasar warna hijau tua, sedangkan  varian 3 bercorak sama dengan 2 namun mempunyai dasar hijau muda.

Kata kunci: klangon, porang (Amorphophallus muelleri Blume), varian

PDF Fulltext

29 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Diversitas Tanaman Lokal Cepat Tumbuh Untuk Penghijauan dan Penghasil Kayu Bakar Dengan Kualitas Bara Api Tinggi

Hellen Aulia Putri1, Soejono2 dan Endang Arisoesilaningsih1

1Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuam Alam, Universitas Brawijaya, henyend@gmail.com, e-arisoe@ub.ac.id
2
UPT Kebun Raya Purwodadi, LIPI, soejono@lipi.go.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies tanaman lokal yang berpotensi sebagai tanaman penghijauan cepat tumbuh dan kayu bakar berkualitas tinggi. Penelitian ini diawali survey dan studi pustaka tentang spesies tanaman yang biasa digunakan masyarakat sebagai kayu bakar. Kemudian dilakukan pengukuran diameter, estimasi tinggi, pengambilan sampel berupa ranting pohon (diameter>2cm) dan pengelompokan umur tanaman. Selanjutnya dilakukan pengukuran volume ranting, pengeringan pada suhu 1000C selama 28 jam, penimbangan berat kering, serta penentuan berat jenis ranting. Laju penyimpanan C/tahun ditentukan dengan menggunakan rumus alometrik yaitu BK=(0,11ρD2,62)/umur. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian  menunjukkan tanaman yang diamati memiliki BJ berkisar antara 0,2-5,32 g.cm-3, sehingga 32,5% tanaman  lokal masuk kategori ringan, 15%  agak ringan, 27,5%  berat dan 25%  sangat berat. Laju penyimpanan C bervariasi antara 0,6-183 kg C.th-1, sehingga 25% dari tanaman lokal dalam penelitian ini  tergolong tinggi karena memiliki laju penyimpanan 22,1-183 kg C.th-1 dan lebih besar dibandingkan dengan tanaman  Gymnospermae yang diamati Hike et al. (2004). Dari 40 spesies tanaman lokal yang diteliti Garcinia balica, Flacourtia rukam, Tarrena fragrans, Alectryon serratus, Syzigium polyanthum, Sterculia foetida, Adenanthera pavonina dan Albizia lebbekoides berpotensi tinggi sebagai tanaman penghijauan cepat tumbuh penghasil kayu bakar dengan kualitas bara api tinggi. Keunggulan tanaman tersebut yaitu laju penyimpanan ≥22,1 kg C.th-1 dan BJ kayu>0,9 g.cm-3. Sebaliknya, tanaman Averrhoa carambola, Sandoricum koetjape, Phyllanthus acidus, Mimosops elengii hanya memiliki BJ tinggi, sehingga dapat menghasilkan kayu bakar dengan bara api baik namun laju akumulasi C<22,1 kg C.th-1. Sementara itu, Parkia timoriana, Cathormion umbellatum, Kleinhovia hospita memiliki laju akumulasi C tinggi/tahun namun kualitas bara api kayu bakarnya kurang.

Kata kunci: kualitas bara api, kayu bakar, laju akumulasi C, tanaman lokal

PDF Fulltext

30 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

STUDI EFEKTIVITAS PENGGUNAAN EKSTRAK PIGMEN BUNGA BUGENVIL (Bougainvillea spectabilis) SEBAGAI ZAT WARNA ALAMI PADA PRODUK JAJANAN PASAR

Indrian Rizka Amalia 1, Aziza Sylvia Hikmiati 2, Dian Siswanto 3

1,2,3 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang

Abstrak

Belum adanya laporan tentang efek negatif konsumsi zat warna alami terhadap tubuh menjadikan pewarna alami menjadi salah satu alternatif bahan pewarna di kalangan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pigmen dan menghasilkan pigmen alami secara maksimal baik dari braktea Bugenvil yang masih segar maupun tidak segar (rontok) serta mengetahui kesesuaian dan efektivitas penggunaan ekstrak pigmen pada produk jajanan pasar berupa makanan dan minuman. Penelitian dilakukan tiga tahap yaitu ekstraksi, identifikasi dan aplikasi. Ekstraksi dilakukan dengan penghancuran braktea Bugenvil warna jingga, merah muda dan ungu (segar dan tidak segar), kemudian homogenat dilarutkan dan dimaserasi dalam akuades:asam sitrat 20% (perbandingan 9:1) sebanyak 100 ml. Ekstrak yang diperoleh lalu disaring dan disentrifugasi pada kecepatan 5000 rpm selama 7 menit. Identifikasi dilakukan dengan mengukur absorbansi supernatan pada panjang gelombang 476 nm, 500 nm, 538 nm, 600 nm. Aplikasi pigmen dilakukan pada produk jajanan pasar yaitu kue kue thok isi kacang ijo, kue kukus dan soda gembira. Konsentrasi ekstrak bunga Bugenvil yang ditambahkan pada masing-masing makanan dan minuman uji tergantung dari seberapa besar penambahan ekstrak tersebut yang nantinya menghasilkan ekspresi warna yang sama atau hampir sama dengan makanan dan minuman pembanding (0% pigmen alami). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pigmen yang teridentifikasi pada Bugenvil adalah betalain. Pigmen yang dihasilkan dari bunga Bugenvil segar lebih efektif daripada bunga Bugenvil yang tidak segar dan lebih efektif bila diaplikasikan pada minuman soda gembira daripada diaplikasikan pada kue thok dan kue kukus, berdasarkan uji organoleptik pada responden.

Kata Kunci : betalain, bugenvil, efektivitas, jajanan pasar

PDF Fulltext

31 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Karakterisasi Porang (Amorphophallus muelleri Blume) di Jember berdasarkan Morfologi, serta Kadar Glukomanan dan Kalsium Oksalat Umbinya

Intan Normasiswati1, Rodliyati Azrianingsih1, Gustini Ekowati1

1Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman morfologi Porang (Amorphophallus muelleri Blume), serta kadar glukomanan dan kalsium oksalat umbinya di Kabupaten Jember, juga pengaruh faktor lingkungan terhadap Porang. Karakter morfologi yang diamati meliputi umbi, tangkai daun, daun dan bulbil dan kondisi abiotik lingkungan (suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya, ketinggian tempat dan kondisi tanah). Analisis kadar glukomanan menggunakan metode IPA dan kalsium oksalat berdasarkan metode gravimetri. Keragaman karakter morfologi dan faktor abiotik dianalisis dengan menggunakan Program klaster. Perbedaan kadar glukomanan dan kalsium oksalat dianalisis dengan uji ANOVA satu faktor dilanjutkan dengan uji BNJ Tukey (α 0,05). Hasil eksplorasi didapatkan Porang tumbuh di tiga kecamatan yaitu Mayang, Sumberbaru dan Tanggul. Porang di Kabupaten Jember tergolong satu varian berdasarkan kesamaan corak tangkai daun dengan koefisien kesamaan antara Porang dari Mayang dan Tanggul sebesar 0,68 dan antara keduanya dengan Porang dari Sumberbaru sebesar 0,52. Kadar glukomanan dan kalsium oksalat umbi Porang di tiga kecamatan tersebut tidak menunjukkan beda nyata, tetapi Porang dari Sumberbaru memiliki kadar glukomanan tertinggi (19,67%) dan kadar kalsium oksalat terendah (0,03%). Berdasarkan hasil analsis korelasi didapatkan semakin tinggi kadar unsur Magnesium dalam tanah akan meningkatkan kadar glukomanan umbi (R2 = 0,973) dan semakin tinggi kadar Magnesium (R2 = 0,854) dan Kalium (R2 = 0,682) dalam tanah akan menurunkan kadar kalsium oksalat umbi Porang.

Kata kunci : Diversitas, glukomanan, Jember, kalsium oksalat, morfologi, Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume).

32 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

ANALISIS IN SILICO HASIL SUPERIMPOSE STRUKTUR DAERAH TIROSIN KINASE RESEPTOR INSULIN NORMAL DAN ABNORMAL

Miftakhun N.Y.P1,2., Fatchiyah1.2, Widodo1

1 Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
2
Laboratorium Sentral Ilmu Hayati, Universitas Brawijaya

Abstrak

Diabetes mellitus (DM) adalah kelainan metabolisme tubuh dalam proses penguraian karbohidrat, yang ditandai dengan kenaikan gula darah karena kurangnya kadar insulin maupun tidak efisiennya kerja insulin di dalam tubuh. Mutasi pada daerah tirosin kinase (tyrosine kinase domain) reseptor insulin (INSR) menyebabkan struktur reseptor berubah sehingga terjadi penurunan sensitivitas reseptor insulin dalam merespon keberadaan insulin, keadaan ini disebut dengan insulin resistance syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi struktur daerah tirosin kinase INSR pada penderita diabetes mellitus(abnormal) serta mengetahui perbedaanya dengan daerah tirosin kinase INSR normal . Struktur 3 dimensi dari suatu protein berkaitan erat dengan fungsi protein yang terbentuk. Perkembangan teknologi biologi komputasi memberikan suatu alternatif untuk mengidentifikasi  struktur dan memprediksi fungsi gen atau protein berdasarkan informasi yang ada. Sekuen DNA daerah tirosin kinase reseptor insulin abnormal dianalisis secara in silico menggunakan beberapa software bioinformatika kemudian dibandingkan dengan data normal. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis penyejajaran menggunakan  program BLAST dari NCBI, analisis struktur 3D  dengan program SWISS MODEL, dan analisis superimpose dengan program STRAP JAVA. Hasil analisis penyejajaran sekuen asam amino normal dan abnormal menunjukkan bahwa terdapat adanya mutasi berupa, delesi, insersi, substitusi dan non sense mutation pada daerah tirosin kinase. Berdasarkan analisis superimpose diketahui bahwa mutasi tersebut menyebabkan perubahan struktur pada protein yang terbentuk.

Kata Kunci : abnormal, bioinformatika, reseptor insulin, superimpose,  struktur 3 dimensi, tyrosin kinase domain

PDF Fulltext

33 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Patogenisitas Kapang Entomopatogen Isolat Bali Pada Kutu Sisik Coklat (Lepidoshapes beckii Newman) Hama Tanaman Jeruk

Shita Prameswari1, Suharjono1, Bagyo Yanuwiadi1 dan Otto Endarto2

1Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, shtprameswari@gmail.com
2
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung, Batu, endarto06@yahoo.com

Abstrak

Salah satu hama tanaman jeruk yang telah menurunkan produktivitas jeruk di Indonesia saat ini adalah kutu sisik coklat (Lepidosaphes beckii Newman). Pengendalian hama yang ramah lingkungan adalah memanfaatkan mikroorganisme seperti kapang entomopatogen yang diketahui mampu menginfeksi dan mengendalikan kutu sisik coklat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas dan karakter fenotipik kapang entomopatogen isolat Bali terhadap kutu sisik coklat (Lepidoshapes beckii Newman) hama tanaman jeruk. Tahapan penelitian meliputi isolasi kapang entomopatogen dari kutu sisik pada buah jeruk yang terinfeksi kapang di kebun jeruk Bali, seleksi kapang berdasar patogenisitas, penghitungan viabilitas konidia kapang pada media Potatoes Dextrose Agar (PDA), uji patogenisitas kapang entomopatogen terhadap kutu sisik coklat (L. beckii) dan karakterisasi fenotip kapang (hifa, konidia dan konidiofor) untuk mengetahui nilai similaritas. Isolat hasil isolasi diperoleh 11 isolat kemudian di seleksi menjadi dua isolat terpilih yaitu isolat B1 B dan B 12 B yang efektif dan patogen pada kutu sisik coklat. Hasil uji patogenisitas menunjukkan bahwa isolat B 12 B memiliki kemampuan patogenisitas lebih tinggi daripada isolat B 1 B dengan nilai mortalitas sebesar 48%. Isolat B 1 B memiliki nilai similaritas sebesar 79% dengan isolat PWRJ I D4 (Fusarium culmorum) sedangkan isolat B 12 B memiliki nilai similaritas sebesar 74% dengan isolat PC ORG D4 (Gibberella sp.).

Kata kunci: kapang entomopatogen, konidia, kutu sisik coklat (L. beckii), patogenisitas, tanaman jeruk.

PDF Fulltext

34 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

STUDI PROTEIN BIOMARKER PADA SERUM PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN MENGGUNAKAN ELEKTROFORESIS GEL DUA DIMENSI (2D-GE)

Wahyu Nur Laili Fajri(1,2), Fatchiyah(1,2), Sri Widyarti(1,2)

(1)Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang
(2)
Laboratorium Sentral Ilmu Hayati, Universitas Brawijaya, Malang, fajriwahyu@yahoo.com

Abstrak

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit gangguan metabolisme dengan keadaan kadar gula darah yang melebihi batas normal akibat adanya gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Gangguan tersebut menimbulkan metabolisme protein dan lipid terganggu, selain itu efek dari DM termasuk kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan gangguan pada beberapa organ. Penelitian dititikberatkan pada gangguan metabolisme protein pada hepar, hal ini disebabkan karena adanya gangguan protein di hepar dapat termanisfestasikan pada serum darah manusia. Penelitian bertujuan  untuk mengkarakterisasi protein biomarker yang terdapat dalam serum pasien DM yang dianalisis dengan menggunakan elektroforesis gel dua dimensi (2D-GE). Adanya protein spesifik pada penderita DM yang ditemukan diharapkan dapat dijadikan sebagai alternatif biomarker diagnostik DM, yang kemudian dapat dijadikan sebagai sudut pandang baru tentang patomekanisme DM. Penelitian dilakukan dengan 2D-GE yang meliputi Isoelectro focusing (IEF) dan Sodium Dodecyl Sulphate-PolyAcrylamide Gel Electrophoresis (SDS-PAGE). Gel diwarnai dengan Commassie Brilliant Blue (CBB), dan selanjutnya divisualisasi dengan menggunakan Chemidoc Gel Imaging (Bio-Rad). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter profil proteomik yang terdapat pada serum individu normal (kontrol), penderita DM tipe 2 dewasa, dan penderita DM tipe 1 anak. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan intensitas maupun ekspresi spot protein yang muncul. Prediksi protein pada gel hasil 2D-GE antara lain Alpha-2-antiplasmin, Alpha-1-antitrypsin, IgAαchain, Hemopexin, Serum albumin, CRP, dan ApoA-1.

Kata kunci: 2D-GE, Diabetes mellitus, serum.

PDF Fulltext

35 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

IDENTIFIKASI POLIMORFISME GEN KALPASTATIN (Cast) EXON 21-22 PADA SAPI PO (PERANAKAN ONGOLE) DENGAN METODE PCR-RFLP

Sri Rahayu1) , Wardatul Anifa Sulhan 1), Agus Susilo2), M.Sasmito Djati1),Suyadi2)

1)    Jurusan Biologi, FMIPA, UB
2)     Fakultas Peternakan, UB

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui polimorfisme gen Kalpastatin Exon 21-22 pada sapi PO. Sampel darah sebagai sumber DNA dikoleksi dari vena jugularis dengan menggunakan tabung venoject yang mengandung bahan antikoagulan, EDTA sebanyak 5 – 6 ml setiap ekor sapi. DNA diisolasi dari sel limfosit menurut metoda standar. Untuk mengetahui keberhasilan isolasi DNA dilakukan pengamatan secara kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer dan pengamatan secara kualitatif dengan menggunakan elektroforesis agarosa 1 %. Amplifikasi dilakukan dengan menggunakan sepasang primer DNA yaitu Primer Forward : 5’-AGAGGTCAAGGAACCG-3’, sedangkan primer Reverse yang digunakan adalah : 5’-GGACTTCACTGTCCCCTCAG-3’. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan hasil pita DNA yang spesifik yaitu terdapat satu pita DNA untuk gen kalpastatin dengan ukuran 260 bp. Selanjutnya untuk melihat adanya polimorfisme dilakukan PCR-RFLP menggunakan enzim AluI. Hasil PCR-RFLP menunjukkan adanya 1 macam haplotip dengan dua fragmen (100 dan 150 bp). Pola potongan pita DNA yang sama diantara individu sapi PO ini menunjukkan bahwa tidak terdapat polimorfisme untuk gen CAST Exon 21-221 pada sapi PO kjetika dilakukan PCR-RFLP menggunakan enzim restriksi AluI.

Kata Kunci : sapi PO, gen Kalpastati

PDF Fulltext

36 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Karakterisasi dan Uji Kemampuan Nitrifikasi Bakteri Pengoksidasi Amonium dan Nitrit Limbah Cair PT Pupuk Kaltim

Yuswa Istikomayanti1, Suharjono1 dan Sutrisno2

1 Jurusan Biologi, 2 Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang

Abstrak

Kolam nitrifikasi-denitrifikasi merupakan metode biodegradasi limbah cair yang ada di PT Pupuk Kaltim. Kolam nitrifikasi yang kurang terkontrol faktor biotik dan abiotiknya menyebabkan penurunan kemampuan bakteri nitrifikasi dalam mendegradasi limbah amonium menjadi senyawa nitrit dan nitrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari bakteri pengoksidasi amonium atau Ammonium Oxidizing Bacteria (AOB) dan pengoksidasi nitrit atau Nitrit Oxidizing Bacteria (NOB) serta tingkat toleransinya pada proses nitrifikasi amonium konsentrasi tinggi. Penelitian ini menurut rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu konsentrasi amonium (500, 600, 700, 800, 900, 1000 mg/l) dan lama waktu inkubasi (24, 48, 72 dan 96 jam) dalam sistem tertutup. Isolat AOB dan NOB dikarakterisasi secara fenotipik dan dianalisis similaritasnya berdasarkan Simple Matching Method. Parameter yang diukur meliputi konsentrasi amonium, nitrit, dan nitrat serta densitas sel bakteri AOB dan NOB. Isolat AOB dan NOB hasil isolasi berada dalam genus yang berbeda dengan nilai similaritas sebesar 56%. Perlakuan konsentrasi amonium 500, 600, 700, 800, 900 hingga 1000 mg/L merupakan konsentrasi amonium yang masih berada pada kisaran toleransi bakteri pengoksidasi amonium (AOB) dan pengoksidasi nitrit (NOB). Konsorsium AOB dan NOB mampu menurunkan amonium hingga 100% setelah inkubasi 48 jam. Peningkatan nitrit dan nitrat tertinggi terjadi pada inkubasi 48 jam pada semua perlakuan dengan rata-rata sebesar 95,9% dan 87,31%.

Kata kunci: Amonium, Konsorsium AOB dan NOB, Nitrifikasi, Nitrat, Nitrit.

PDF Fulltext

37 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Aktifitas Antimalaria Pigmen Betalain

Aziza Silvya Hikmiati1, dan Retno Mastuti2

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, email : giftidfor_zz@yahoo.com1 rmastuti7@ub.co.id2

Abstrak

Betalain merupakan pigmen warna tanaman dari yang mengndung nitrogen yang disusun oleh dua jenis pigmen yaitu betasianin untuk warna merah-ungu dan betaxantin untuk warna kuning-oranye. Faktor-faktor penentu kestabilan pigmen betalain antara lain yaitu kondisi Ph, keberadaan oksigen, besi, aktifitas air, panjang paparan sinar, suhu, dan aktifitas enzimatik. Sifat mudah larut terhadap air menjadikan betalain sebagai senyawa kimia yang banyak digunakan untuk dikonsumsi karena mudah diserap oleh tubuh. Kandungan nitrogen yang terdapat dalam struktur betalain merupakan komponen  aktif  yang digunakan untuk melawan parasit malaria, yang bekerja dengan menghambat transport intraselular kolin sebagai komponen pembentukan membran sel pada parasit. Selain itu kandungan orthodifenol dan beberapa karbon berfungsi sebagai kelator ion Ca2+, Mg2+ dan Fe2+ menjadikan  betalain dapat berperan aktif  sebagai antimalaria  dalam berkompetisi dengan keberadaan Plasmodium.serta aktifitas antioksidan yang membantu dalam aktifitasbetalain sebagai antimalaria

Kata kunci : antimalaria, betalain,  kelator, nitrogen, Plasmodium

PDF Fulltext

38 Basic Science Seminar VII, FMIPA UB, 2010

Perbandingan Kadar Senyawa Glukomanan dan Kalsium Oksalat pada Beberapa Varian Porang (Amorphophallus muelleri Blume.) dari Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur

Khoirul Anam, Rodiyati Azrianingsih, Gustini Ekowati

Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang, manusia_endemik@plasa.com

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah memeriksa variasi morfologi tumbuhan porang (Amorphophallus muelleri Blume.) yang tumbuh di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, serta membandingkan kadar glukomanan dan  kadar kalsium oksalat pada umbinya. Pengambilan data dilakukan melalui jelajah seluruh area hutan berdasarkan peta dari KPH Saradan. Deskripsi habitat dan morfologi tanaman porang diamati dan dikelompokkan. Masing-masing kelompok diambil tiga tanaman pada lokasi yang memiliki karakter yang sama dan telah mencapai umur antara dua sampai tiga tahun, dengan tinggi tanaman minimal 90 cm. Pengukuran kadar glukomanan dilakukan dengan metode IPA (Ohashi, 2000) sementara itu kadar oksalat porang ditentukan dengan metode pengabuan (Sudarmadji dkk., 1997). Keragaman varian porang ditentukan melalui karakter warna dan corak tangkai daun, dan analisis klaster (Minitab v.14). Data yang diperoleh dari analisis kadar glukomanan dan kalsium oksalat diuji dengan uji F dan uji lanjut BNJ (α 0,05). Terdapat tiga varian porang yang ditemukan di area penelitian ini, yaitu Porang Varian A memiliki tangkai daun hijau tua dengan corak putih bergaris rapat; kadar glukomanannya tertinggi (18,33%), dan kadar kalsium oksalatnya 0,13%. Porang Varian B memiliki tangkai daun hijau muda dengan corak putih belah ketupat yang merapat pada bagian ujung; kadar glukomanannya terendah (7,48%) dengan kadar kalsium oksalat terendah (0,12%). Porang Varian C memiliki tangkai daun berwarna hijau tua dengan corak putih belah ketupat yang merata pada semua bagian; kadar glukomanannya 11,18% dengan kadar kalsium oksalatnya tertinggi (0,15%). Indeks similaritas Varian A dan Varian B sebesar 99,64% yang berjarak dengan Varian C dengan indeks silmilaritas 98,16.

Kata kunci: glukomanan, kalsium oksalat, Madiun, porang, varian

PDF Fulltext

39 Biota Vol. 15 (3): 354−362, Oktober 2010
ISSN 0853-8670

Daya Dukung dan Laju Pertumbuhan Microcystis Hasil Isolasi dari Waduk Sutami pada Berbagai Variasi Konsentrasi Nitrat dan Fosfat dalam Medium Selektif B-12

Catur Retnaningdyah1*, Suharjono1, Agoes Soegianto2, dan Bambang Irawan2

1Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang Jawa Timur 65145
2
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya
E-mail:
catur@ub.ac.id * penulis untuk korespondensi

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menghitung daya dukung dan laju pertumbuhan Microcystis hasil isolasi dari waduk Sutami pada berbagai variasi konsentrasi nitrat dan fosfat dalam medium selektif B 12. Penelitian dilakukan di laboratorium dengan eksperimen murni menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan faktor berupa variasi konsentrasi nitrat (8, 16, 32, dan 64 mg/L) dan fosfat (0,2; 0,4; 0,8; dan 1,6 mg/L) pada medium B12. Pengulangan penelitian dilakukan tiga kali pada waktu yang sama. Hasil penghitungan kelimpahan populasi Microcystis tiap hari sampai fase stasioner (+30 hari) digunakan untuk menghitung laju pertumbuhan (β) dan kelimpahan maksimum Microcystis yang bisa didukung oleh tiap medium perlakuan (γ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan tidak secara nyata dipengaruhi oleh kadar fosfat dalam medium tetapi secara nyata berkorelasi positif dengan peningkatan konsentrasi nitrat dalam medium. Daya dukung atau kelimpahan maksimum (γ) Microcystis tidak secara nyata dipengaruhi oleh interaksi variasi konsentrasi nitrat dan fosfat di medium. Konsentrasi fosfat 0,4 mg/L yang dikombinasikan dengan nitrat 8−64 mg/L mampu mendukung kelimpahan maksimum Microcystis tertinggi.

Kata kunci: Microcystis, medium B12, nitrat dan fosfat, Waduk Sutami

40 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

Pemberdayaan Komunitas Pseudomonas untuk Bioremediasi Ekosistem Air Sungai Tercemar Limbah Deterjen

Dr. Suharjono, MS

Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang

Bioremediasi merupakan salah satu teknologi yang efektif untuk restorasi lingkungan yang tercemar deterjen serta mampu menurunkan toksisitas pencemar tersebut dengan melibatkan aktivitas mikrobia. Komunitas mikrobia tersebut memainkan peran sangat penting dalam biodegradasi senyawa pencemar alami maupun yang berasal dari aktivitas manusia, sehingga mendukung swapurifikasi ekosistem secara alami. Pertumbuhan bakteri  Pseudomonas di ekosistem air sungai yang tercemar deterjen berasosiasi dengan permukaan sedimen membentuk
biofilm. Biofilm merupakan mekanisme untuk mempertahankan kelangsung hidup di alam khususnya strain-strain anggota Genus  Pseudomonas yang umumnya terbentuk dari beberapa strain/spesies (Dunne, 2002; O’Toole, 2003, Suharjono et al., 2009 dan 2010a). Komunitas tersebut merupakan bentuk kerja sama organisme teradaptasi yang memungkinkan pemanfaatan sumber daya lingkungan secara efisien dan menghasilkan lingkungan mikro yang sesuai di dalam lingkungan makro yang tidak sesuai. Densitas bakteri komunitas Pseudomonas di sedimen (26,33 x105-103,67 x105 cfu/g) lebih tinggi daripada di kolom air (0,51×105-10,47×105 cfu/ml). Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya sumber nutrisi seperti nitrat, fosfat, bahan organik, dan LAS pada sedimen akan menyebabkan mikrobia cenderung tumbuh lebih baik dan densitasnya lebih tinggi pada sedimen dibandingkan dengan di kolom air. Tingginya densitas bakteri di sedimen disebabkan kondisinya aerob serta banyak nutrisi hasil  sedimentasi bahan organik dari kolom air di atasnya dan difusi dari sedimen bagian dalam. Keuntungan masing-masing strain bakteri penyusun komunitas dalam  biofilm tersebut antara lain: a) Mendapat perlindungan dari berbagai parameter lingkungan yang tidak sesuai dan b) Terjaminnya ketersediaan nutrien dan kerjasama metabolik.

41 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

STUDI  POLYMORFISME GEN BMP-15  PADA  SAPI BALI

Sri Rahayu

Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya
E-mail : srahayu@ub.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui polimorfisme gen BMP-15 pada sapi Bali. Sampel darah sebagai sumber DNA dikoleksi dari  vena jugularis  dengan menggunakan tabung venoject yang mengandung bahan antikoagulan, EDTA sebanyak 5 – 6 ml setiap ekor sapi. DNA diisolasi dari sel limfosit menurut metoda standar. Untuk mengetahui keberhasilan isolasi DNA dilakukan pengamatan secara kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer dan pengamatan secara kualitatif dengan menggunakan elektroforesis agarosa 1 %. Amplifikasi dilakukan dengan menggunakan sepasang primer DNA yaitu forward primer : 5′-AGTTTGTACTGAGCCGGTCT-3′ dan reverse primer : 5′-CTGACACACGAAGCGGAGT-3′. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan hasil pita DNA yang spesifik yaitu terdapat satu pita DNA untuk gen  BMP-15  dengan ukuran 450 bp. Selanjutnya untuk melihat adanya polimorfisme dilakukan PCR-RFLP menggunakan enzim  AluI. Hasil PCR-RFLP menunjukkan adanya 2 macam haplotip yaitu haplotip 1 dengan dua fragmen (200 bp dan 150 bp), dan haplotip 2 dengan tiga fragmen (375 bp, 200 bp dan 150 bp). Pola potongan pita DNA yang bervariasi diantara individu sapi Bali ini menunjukkan bahwa terdapat variasi untuk gen BMP-15 pada sapi Bali.

Kata Kunci : Gen BMP-15, PCR-RFLP,  sapi Bali.

42 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

KAJIAN UMUR JARINGAN KACANG ARAB (CHICKPEA) TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT Ascochyta rabiei DENGAN MENGGUNAKAN KULTUR DAUN

Nunung Harijati

Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya
harijati@ub.ac.id atau nharijati@gmail.com

ABSTRAK

Ascochyta rabiei merupakan penyakit kacang arab (Chickpea) yang tergolong ganas. Tujuan penelitian adalah melihat pengaruh umur daun chickpea dan tahap perkembangan pertumbuhannya terhadap ketahanan penyakit A.rabiei. Metode  kultur daun yang digunakan adalah dengan mensterilkan daun yang diambil dari glass house dengan mencelupkan daun berturut-turut dalam alkohol 70% (30 detik), 2% NaOCl (1 menit) kemudian dibilas dengan akuades steril tiga kali (3x 1menit). Daun yang sudah steril dikulturkan di ‘water agar’ 2%. Masing-masing anak daun kemudian diinokulasi 5µl suspensi konidia  A.rabiei  (1×105 conidia.ml-1). Sampel daun yang dikulturkan : a) daun no.1-9  varietas Lasseter, b) daun no.5 dari batang utama dan no.5 cabang varietas peka (Lasseter) dan tahan (F508), c) daun no.3 dan 7 batang utama ( Lasseter dan F508). d). Daun no 3 berasal dari tahap perkembangan ‘juvenil’, ‘flowering’, dan ‘podding’ ( Lasseter dan F508). Hasilnya, persentase infeksi daun no.1 meningkat hingga daun no5, lalu menurun hingga no.9.  Daun dari cabang lebih banyak terinfeksi dibanding dari batang utama, baik pada Lasseter maupun F508. Namun untuk dari satu batang utama saja (daun no.3 dan no.7) terjadi fenomena yang terbalik antara lasseter dan F508. Daun no.3 Lasseter lebih banyak terinfeksi, no.3 F508 sedikit terinfeksi. Dalam tiga tahap perkembangan fisiologis, tahap pengisian polong  lebih banyak terinfeksi, kemudian disusul pembungaan  dan semaian paling sedikit.  Perkembangan penyakit diawali dengan timbulnya bercak putih kecil dan makin lama membesar, kemudian bercak berubah warna menjadi kecoklatan lalu diikuti munculnya picnidia, picnidia membentuk struktur konsentris yang makin lama makin meluas, akhirnya merubah seluruh warna daun menjadi coklat. Picnidia merupakan sumber inokulum potensial.

Kata kunci : lasseter, F508, daun muda, daun tua, picnidia

43 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

INDUCTION OF HAIRY ROOTS IN TOMATO (Lycopersicon esculentum Mill.)  By Agrobacterium rhizogenes-MEDIATED TRANSFORMATION

Wahyu Widoretno, Ratna Perwitasari, Novita Hidayatun Nufus, Mutiadevi Ariyana

Department of Biology, Faculty of Mathematic and Natural Sciences,
Brawijaya University, Malang

ABSTRACT

Tomato is commonly known as a source of lycopene that has a higher antioxidant activity than a beta-carotene and vitamin A, C, E, or the other mineral. Lycopene can inhibit carcinogenesis in animal cell and human. Nevertheless, tomato bioactive lycopene substance production is difficult to be standardized conventionally because of some factors: cultivars, ripening degree, plant growth in the field, which is affected by environments. Some researchers showed that hairy root culture in association with  Agrobacterium  rhizogenes could increase secondary metabolites content of plant. Therefore, the aim of this research is induction of hairy root of tomato by  A.  rhizogenes  transformation and hairy root  culture resulted from genetic transformation on selective medium without any addition of growth regulators. Influence of optical density (OD) of bacterium and inoculation time was assessed by infecting roots on germinated seedling. Tomato seedling root explants transformation with A. rhizogenes could induce hairy root formation.  Percentage of hairy root formation and the growth of roots of explants which were transformed with A. rhizogenes were affected by the bacterial OD, while  root  fresh weight was affected by OD and time of inoculation.  The percentage of hairy root formation was 48 – 93 %.  Bacterial OD of 0.5 was more effectively induce the hairy root formation if compared to the OD of 1.  Even though there was no significantly effect of inoculation time on growth and formation of hairy root, however there was a trend that the longer time of inoculation of tissue with  A. rhizogenes, the lower of formation and growth of hairy root.  Transformed hairy roots were capable to grow fast on the medium without  any growth regulator, which indicated that the cultured root explants were transformant roots. Transformed hairy root with A. rhizogenes on 0.5 OD could produce higher root weight than OD 1 in liquid medium without any growth regulator.

Key words: Hairy  root, transformation, optical density, inoculation time,  Lycopersicon
esculentum Mill., Agrobacterium rhizogenes

44 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

ISOLASI DAN UJI PATOGENISITAS KAPANG ENTOMOPATOGEN PADA KUTU SISIK COKLAT (Lepidoshapes beckii Newman) HAMA TANAMAN JERUK

Suharjono 1*, Agung P. W. Marhendra 1, Anang Triwiratno 2, Susi Wuryantini 2, Lina Oktavia R. 1, Ahmad S. Jamil 1
1. Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya, Malang
E-mail: csharjono@yahoo.co.id  / calistus@ub.ac.id
2. Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur

ABSTRAK

Kutu sisik coklat (Lepidoshapes beckii Newman) merupakan hama penyebab turunnya produktivitas buah dan kematian tanaman  jeruk. Beberapa spesies kapang bersifat patogen dan mampu membunuh hama tersebut. Penelitian telah dilakukan untuk mendapatkan isolat kapang  dari berbagai sentra produksi jeruk di Indonesia yang memiliki potensi sebagai pengendali kutu sisik coklat. Kapang entomopatogen diisolasi dari kutu sisik yang terinfeksi. Suspensi konidia kapang 0.5 mL dengan densitas 102-107 konidia/ml disemprotkan pada daun tanaman jeruk seluas 2 cm2 yang terinfestasi 15 kutu sisik coklat.  Kutu sisik yang mati diamati setiap hari. Tiap perlakuan dilakukan tiga ulangan menurut rancangan acak lengkap. Destruksin kapang yang paling tinggi patogenisitasnya dengan konsentrasi 0, 5, 10, 50, 100, 500, dan 1000 mg/l disemprotkan pada daun jeruk yang sudah diinfestasi 10 larva kutu sisik. Isolat PW ASG D2 (Gibberella moniliformis  BZ070101)  dan BRS D23 (Aschersonia  sp.) dengan densitas 102 konidia/mL memiliki patogenisitas sebesar 100% merupakan kapang yang paling efektif dalam mengendalikan kutu sisik coklat. Destruksin kedua spesies tersebut memiliki toksisitas LC50-48 jam untuk Gibberella moniliformis BZ070101  sebesar 181 mg/l dan  Aschersonia sp. sebesar 470 mg/l.

Kata kunci: Entomopatogen, kapang, kutu sisik coklat, patogenisitas

45 Pros. Seminar Nasional Biologi, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, 24-25 September 2010

IDENTIFIKASI PIGMEN BETASIANIN PADA BEBERAPA JENIS INFLORESCENCE Celosia

Retno Mastuti 1), Yizhong Cai 2) dan Harold Corke 2)

1)Jurusan Biologi Fakultas MIPA UB; email: rmastuti@yahoo.com
2)School of Biological Science, The University of Hong Kong

ABSTRAK

Saat ini pigmen betasianin semakin banyak menarik perhatian karena berpotensi sebagai pewarna alami yang sehat. Pigmen betasianin merupakan anggota pigmen betalain yang berwarna merah-violet dan  telah diketahui mempunyai kapasitas sebagai antioksidan dan scavenging senyawa radikal. Celosia yang banyak ditanam sebagai tanaman hias merupakan salah satu anggota famili Amaranthaceae yang banyak mengandung pigmen betsianin pada bagian bunganya. Di daerah Malang dan sekitarnya banyak dijumpai tanaman Celosia dengan berbagai warna bunga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi senyawa pigmen betasianin pada berbagai warna bunga Celosia dengan menggunakan HPLC. Sampel bunga yang diidentifikasi berwarna merah-oranye, merah dan merah-violet dengan inflorescence berbentuk cristate, plumous maupun spicata. Profil HPLC menunjukkan bahwa semua sampel bunga dengan tingkat warna merah yang berbeda mengandung amaranthin dan isoamaranthin yang terelusi lebih cepat dibanding subklas betasianin yang lain.

Kata kunci: Betasianin, Celosia, HPLC

46 Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus: 4A (99-102), 2010

KANDUNGAN OKSALAT UMBI PORANG (Amorphophallus muelleri Blume syn. A. oncophyllus Prain)

Serafinah Indriyani¹, Retno Mastuti¹, Anna Roosdiana²
¹ Jurusan Biologi FMIPA Universitas Brawijaya
² Jurusan Kimia FMIPA Universitas Brawijaya
Jl. Veteran Malang 65145

ABSTRACT

The objective of the study was to identify the content of oxalate in porang corms. Porang corms were collected  from Klangon Village,  Saradan Subdistrict,  Madium Regency, East Java Province. The range of corm biomass was grouped on 3 (three) levels: 1)  100-150 grams, 2) 270-350 grams and 3) 500-600 grams. The content of oxalate was determined using volumetric method. Quantitative data was analyzed using Manova, and continued with Tukey HSD Test α=0,05. The results showed that the content of oxalate was different among the groups of porang corms. The second group of porang corms with 270-350 grams weight had the highest content of oxalate compared with the first and the third groups.

Key words: corm weight, oxalate,  porang.

47 Seminar LSIH, Universitas Brawijaya, 2010

PEWARISAN SIFAT BERCABANG YANG DIKONTROL OLEH GEN AUX1 PADA TANAMAN KENAF

Estri Laras Arumingtyas, Retno Mastuti, Serafinah Indriyani
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Brawijaya
Jl. Veteran, Malang 65145

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk konfirmasi keberadaan gen AUX1 pada dua tipe percabangan kenaf hasil mutasi dengan Ethyl Methane Sulfonate (EMS) pada generasi kedua (F2), mengkonfirmasi keberadaan gen AUX1 pada tingkat biji untuk menjajagi kemungkinan deteksi lebih dini dan mengukur konsentrasi auksin pada bagian pucuk, batang (cabang apikal,  tengah dan basal), dan akar untuk menduga mekanisme pengontrolan cabang. Dari hasil pengamatan tampak bahwa tipe percabangan basal merupakan hasil fenomena epigenetik, yang tidak lagi bersegregasi pada keturunan ketiga (F3).  Sedangkan tipe percabangan apikal memang benar merupakan hasil ekspresi suatu gen percabangan dan masih terkonservasi sampai ke F3.   Keberadaan gen AUX1 pada biji dikonfirmasi dengan teknik PCR dengan menggunakan template DNA yang diisolasi dari biji dengan menggunakan metode Doyle dan Doyle (1987) dan menggunakan primer AUX1. Program yang digunakan 1 menit denaturasi pada suhu 93 oC, 30 detik  annealing pada 56 oC, 1 menit ekstensi pada suhu  72 oC, sebanyak 35 siklus. Pemanasan awal dilakukan selama 1 menit pada suhu 93 oC, dan fase pemanjangan terakhir dilakukan selama 10 menit pada suhu 72 oC.   Hasil PCR sangat tipis dan berukuran kecil (200 bp) berbeda dengan hasil PCR dengan menggunakan template DNA yang diisolasi dari daun.  Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan susunan gen dalam biji dengan tanaman dewasa. Kandungan auksin pada ujung akar, ujung batang dan ujung cabang dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman bercabang mempunyai kandungan auksin di cabang yang lebih rendah dibanding pada ujung batang. Hal ini mengindikasikan bahwa gen AUX1  mengontrol pembentukan cabang dengan cara mengontrol kandungan auksin pada ujung batang dan cabang atau dengan mengatur rasio kandungan auksin pada ujung batang dan cabang.

Kata kunci: gen AUX1, auksin, cabang.

48 The 1st Annual Meeting of Society for Indonesian Biodiversity. Jurusan Biologi FMIPA dan PS Biosains PPs UNS. 22 Juli 2010

A MODEL OF RELATIONSHIP BETWEEN CLIMATE AND SOIL FACTORS RELATED TO OXALATE CONTENT IN PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) CORM

Serafinah Indriyani12, Endang Arisoesilaningsih2, Tatik Wardiyati3, Hery Purnobasuki4
1 Post-graduate program, Study Program of Mathematics and Natural Sciences, Airlangga University, Surabaya 60115, East Java, Indonesia
² Biology Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Brawijaya University, Jl. Veteran, Malang 65145, East Java, Indonesia. Tel. & Fax.: +62-341-575841. E-mail: s.indriyani@ub.ac.id
3 Agronomy Department, Faculty of Agriculture, Brawijaya University, Malang 65145, East Java, Indonesia
4 Biology Department, Faculty of Science and Technology, Airlangga University, Surabaya 60115, East Java, Indonesia

ABSTRACT

The abiotic environment as well as the biotic environment, involved climate and soil influence directly or indirectly to plant growth as well as plant substance. The objective of the research was to obtain a model of relationship between climate and soil factors related to oxalate content in porang corm. Porang corms were collected from five locations of porang agroforestry in East Java. The locations were (i) Klangon Village, Saradan Subdistrict, Madiun Regency; (ii) Klino Villlage, Sekar Subdistrict, Bojonegoro Regency; (iii) Bendoasri Village, Rejoso Subdistrict, Nganjuk Regency; (iv) Sugihwaras Village, Ngluyu Subdistrict, Nganjuk Regency and (v) Kalirejo Village, Kalipare Subdistrict, Malang Regency. Geography variable consist of altitude. Climate variables consist of percentage of radiation, temperature and rainfall. Soil variables consist of electrical conductivity, pH, soil specific gravity, soil organic matter, available of calcium, and cation exchange capacity (CEC). Vegetation variables consist of species of plant tree and percentage of coverage. Porang vegetative growth variables consist of plant height, number of bulbil, canopy diameter, and petiole diameter. Corm variables consist of corm diameter, corm weight, and corm specific gravity. Oxalate variables consist of total oxalate, soluble oxalate, insoluble oxalate, and density of calcium oxalate crystal. Oxalate contents were measured based on AOAC method. All of variables were collected from first to fourth growth period of porang. Data were analyzed by smartPLS (Partial Least Square) software. The results showed that there were significantly direct effect between altitude and temperature, altitude and CEC of soil, temperature and CEC of soil, altitude and percentage of coverage, temperature and percentage of coverage, CEC of soil and percentage of coverage, CEC of soil and petiole diameter, petiole diameter and corm diameter, and petiole diameter and corm oxalate content. There were no significantly direct effect among altitude, temperature, percentage of coverage and petiole diameter; and among corm total oxalate, soluble oxalate, insoluble oxalate, and density of calcium oxalate crystal and corm diameter. The value of Goodness of Fit of the developing model was R²=0.99.

Key words: corm, climate, model, oxalate, smartPLS, porang, soil

49
50
51